Showing posts with label Islami. Show all posts
Showing posts with label Islami. Show all posts

Sunday, September 6, 2009

Kiat Khusyu' Dalam Shalat

Fauzan Ahmad az-Zumari 30 Oktober 2004
Ada beberapa kiat khusyu' dalam shalat yang kerap kali disinggung oleh para
ulama dalam buku-buku mereka khususnya yang berkenaan dengan hukum dan
tata cara shalat. Berikut kami sampaikan tulisan yang dikutip dan diramu dari
buku "Kaifa Naksya'u Ash-Shalah"- oleh Fauzan Ahmad az-Zumari - cetakan
Darul Basyair al-Islamiyah - Beirut - Libanon.
Vitalitas shalat di antara sekian banyak ragam ibadah adalah aksioma yang
sudah mengakar dalam aqidah dan keyakinan seorang mukmin. Betapa tidak?
Allah berfirman tentang shalat dua kali, dalam deretan syarat keberuntungan
mukmin di hadapan Allah yaitu pada awalnya:
"Sungguh beruntung orang-orang yang beriman; Yaitu orang-orang
yang khusu' dalam shalatnya..." sampai akhir ayat: " ...Yaitu
orangorang yang selalu melihara shalat-shalat mereka...' (al-
Mukminun: 1-9) selegkapnya...

Firman Allah yang artinya:
"Kemudian, Allah menganugerahkan bagi mereka Jannah Firdaus nan
abadi." (al-Mukminun: 10)
Dengan shalat, pribadi mukmin dapat menggapai puncak kebahagian tertinggi,
sebagaimana tersebut di atas; dan jika serampangan menunaikannya, seorang
mukmin juga bisa terperosok ke jurang Wail di Narr Jahannam. Allah berfirman:
Disalin dari majalah As-Sunnah 07/III/1424H hal 38 - 44.
1. "Maka Narr Wail bagi mereka yang shalat; yaitu orang-orang yang
melalaikan shalatnya itu.." (al-Ma'un: 3-4)
Melalui shalat, seorang mukmin dapat mengentaskan tabi'at buruk manusia yang
tak mau susah, tapi juga tak tahu di untung. Allah berfirman:
"Sesunguhnya manusia diciptakan dalam keadaan keluh kesah lagi
kikir; apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah; dan pabila
ia mendapat kebaikan ia amat kikir; melainkan orang-orang yang
shalat.' (al-Ma'arij: 19-21)
Shalat adalah media efektif untuk mengerem manusia dari berbagai perbuatan
maksiat dan kemungkaran:
Dan dirikanlah shalat, sesungguhnya shalat itu (dapat) mencegah
perbuatan keji dan mungkar. (al-Ankabut: 45)
Sebagai makhluk sosial, manusia juga pasti dilingkungi oleh komunitas hidup
yang akrab dengan beragam problematika. Ketabahan jiwa menghadapi berbagai
persoalan menjadi senjata ampuh menuju kebahagiaan hidup; pamungkas nya?
Bagi seorang mukmin, tentu saja hubungan yang menyeluruh dan berkwalitas
dengan Sang Maha pencipta, yang tak lain adalah shalat:
Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai
penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.
(al-Baqarah: 153)
Gelombang kehidupan yang terkadang bergolak amat keras juga seringkali
mengombangambingkan seorang mukmin antara ketaatan dan kemaksiatan.
Kitabullah sebagai pegangan, haruslah kita pelihara dengan sekuat tenaga.
Salah satu di antara kiat jitu melanggengkan sikap konsistensi kita berpegang
kapada hukum ilahi adalah dengan memperbaiki kualitas shalat:
"Dan orang-orang yang berpegang teguh dengan Al-Kitab (Taurat)
serta mendirikan shalat, (akan Kami beri pahala) karena
sesungguhnya Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang yang mengadakan perbaikan." (al-A'raf: 170)

2. Oleh sebab itu, di antara hal paling penting dari perintah Allah yang harus
disosialisakan dalam keluarga adalah juga, shalat. Melalaikan shalat adalah
malapetaka. Sebaliknya, menyibukkan diri dengan ibadah tak akan membikin
manusia celaka, sengsara atapun merana.
"Dan perintahkanlah kepada keluarga kamu untuk mendirikan shalat
dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak
meminta dari kamu rezki. Kamilah yang akan memberimu
rezki. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang
bertakwa." (ath-Thaha: 132). Hanya saja, tak sembarang orang mukmin mampu dengan mudah mengabadikan amalan shalat, apalagi dalam ujud yang sempurna rukun dan syaratnya, ditambah sejumlah sunnah-sunnah yang juga terdapat dalam shalat. Kemudahan itu hanya milik mereka yang mampu tampil khusyu' dalam shalatnya. Dalam hal itu, Allah sudah menegaskan: "Dan sesungguhnya yang demikian itu (shalat) amatlah berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu'" (al-Baqarah: 45) Celakanya, kebanyakan kaum Muslimin sering menjadi pelanggan shalat yang kerap alpa, dan lalai melakukannya. Itu sudah menjadi ketentuan ilahi yang akan berlaku, dan akan diperbuat oleh satu generasi di akhir jaman. "Maka datanglah sesudah mereka generasi yang jelek yang menyia-
nyiakan shalat dan memper turutkan hawa nafsunya; maka mereka
kelak akan menemui kesesatan." (Maryam: 59) Padahal, shalat adalah amalan yang paling utama, yang pertama kali akan dihisab dari seorang hamba di hari akhir nanti. Bahkan Rasulullah menjadikannya sebagai wasiat akhir sebelum kematian beliau. Beliau bersabda: "Allah, Allah, (Wahai kaum Muslimin) pelihara lah shalat, peliharalah shalat dan bertakwalah kepada Allah, serta peliharalah
para hamba sahaya yang menjadi milikmu." Diriwayatkan oleh Abu Dawud: 5156, Ibnu Majah: 2689, Ahmad: 1/78 dan al-Baihaqi: VIII/11, dari hadits Ali 414.

3. Demikianlah keagungan nilai shalat, dan demikian sebagian di antara ratusan
dalil yang berbicara tentang keutamaan shalat. Dengan itu, kita dapat menilai
realita yang ada di kalangan kita kaum Muslimin: Yaitu realita menganggap
shalat hanya sebagai rutinitas hidup, instrumen pelengkap dalam putaran roda
kehidupan, yang tak lagi memiliki ruh, kualitas dan kemuliaan yang seharusnya
melekat pada ibadah shalat tersebut.
Shalat sudah dianggap melelahkan, terlalu menguras waktu (entah waktu yang
bagaimana), dan terkesan membosankan. Dan satu hal yang lumrah jika persepsi itu memasyarakat, karena kaum Muslimin kecuali yang mendapat rahmat Allah sudah kehilangan miliknya yang paling berharga dalam menjalankan shalat, yaitu: kekhusyu'an. Nabi bersabda:
"Sesungguhnya karunia pertama yang dicabut Allah dari para hamba-
Nya adalah kekhusyu'an dalam shalat."
Oleh sebab itu, sedapat mungkin kita berupaya memperoleh kembali (kalau sungguh telah hilang dari kita) kekhusyu'-an dalam shalat yang menjadi ciri mereka yang meyakini hari kebangkitan; berusaha membiasakannya dalam diri kita, bahkan mencari cara dalam ajaran As-Sunnah yang dapat menguak jalan ke arah itu.

Definisi Dan Pengertian Khusyu'
1.1 Secara Bahasa
Secara bahasa, kata khusyu' memiliki beberapa arti yang sama:

I. Tunduk, pasrah, merendah atau diam.
Artinya mirip dengan kata khudhu'. Hanya saja kata khudhu' lebih sering
digunakan untuk anggota badan, sedangkan khusyu' untuk kondisi dan
gerak-gerik hati.
A. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam "Khalqu Af'ali al-'Ibad" hal. 62, Ath-Thabrani dalam "Al-Mu'jam Al-Kabir": 7183, An-Nasa'i dalam "As-Sunan al-Kubra": 5909 dan lain-lain dari Syaddad, bin `Aus.
B. Lihat Mu'jamu Maqasiyisi al-Lughah: II/152, Bashairu dzawi At-Tamyiz: II/541-543, Tafsir al-Baghwi: III/ 301, Tafsir Abi As-Su'ud: V1/123 dan Fathul Bari: II/225.

II. Bisa juga berarti rendah perlahan, biasanya digunakan untuk suara.
Allah berfirman: "Dan (khusyu') merendahlah semua suara kepada Rabb Yang Maha Pemurah, maka kamu tidak mendengar melainkan bisikan saja." (Ath-Thaha: 108)

III. Arti khusyu' juga bisa diam, tak bergerak.
Allah berfirman yang artinya: "Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, kamu lihat bumi itu diam tak bergerak (ada juga yang mengatakan: tandus-Pent),
dan apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur." (Al-Fusshilat: 39)

1.2 Menurut Istilah
Khusyu' artinya: kelembutan hati, ketenangan sanubari yang berfungsi
menghindari keinginan keji yang berpangkal dari memperturutkan hawa
nafsu hewani, serta kepasrahan di hadapan ilahi yang dapat melenyapkan
keangkuhan, kesombongan dan sikap tinggi hati.
Dengan itu, seorang hamba akan menghadap Allah dengan sepenuh hati.
Ia hanya bergerak sesuai petunjuk-Nya, dan hanya diam juga sesuai dengan
kehendak-Nya. Adapun pengertian khusyu' di dalam shalat:
kondisi hati yang penuh dengan ketakutan, mawas diri dan tunduk
pasrah di hadapan keagungan Allah. Kemudian semua itu membekas
dalam gerak-gerik anggota badan yang penuh hikmat dan konsentrasi
dalam shalat, bila perlu menangis dan memelas kepada Allah;
sehingga tak memperdulikan hal lain. Pengertian kusyu' tersebut diambil dari firman Allah sebagaimana tersebut sebelumnya:
Lihat "Al-Khusyu' Ash-Shalah" oleh Ibnu Rajab al-Hambali.
Lihat Al-Khusyu' karya Al-Hilali."..yaitu orang-orang yang khusyu' dalam shalatnya.." (Al-Mukminun: 1-2).
Mengenai makna kekhusyu'an itu, Ibnu Abba's menandaskan: "Artinya penuh
takut dan khidmad." Al-Mujahid menyatakan: "Tenang dan tunduk." Sementara
Ali bin Abi Thalib pernah menyatakan:
"Yang dimaksud dengan kekhusyu'an di situ adalah kekhusu'an hati."
Lain lagi dengan Hasan al-Bashri, beliau berkata:
"Kekhusyu'an mereka itu berawal dari dalam sanubari, lalu terkilas
balik ke pandangan mata mereka sehingga mereka menundukkan
pandangan mereka dalam shalat." Imam Atha' pernah berkata:
"Khusyu' artinya, tak sedikitpun kita mempermainkan salah satu
anggota tubuh kita."
Jadi artinya, kekhusyu'an dalam shalat bukanlah sekedar kemampuan
memaksimalkan konsentrasi sehingga pikiran hanya terfokus dalam shalat.
Namun kekusyu'an lebih merupakan kondisi hati yang penuh rasa takut, pasrah,
tunduk dan sejenisnya; yang membias dalam setiap gerakan shalat menjadi
nampak anggun, khidmat dan tidak serampangan.

C. Kiat Khusyu' Dalam Shalat
Ada beberapa kiat khusyu' dalam shalat yang kerap kali disinggung oleh para
ulama dalam buku-buku mereka khususnya yang berkenaan dengan hukum dan
tata cara shalat. Di antaranya:
1. Mengenal Allah, Menghadirkan, Mengagungkan dan
Takut Kepada-Nya.
Orang yang paling khusyu' dalam shalat adalah orang yang paling bertakwa.
Karena Allah berfirman: "(orang-orang yang khusyu' yaitu) orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Rabb mereka, dan bahwa mereka akan
kembali kepada-Nya." (Al-Baqarah: 46). Dalam hal itu Allah juga berfirman:
"Sesungguhnya yang takut (bertakwa) kepada Allah hanyalah para
ulama." (Al-Fathir: 28)

Maksudnya, hanya orang-orang yang berilmu yang tergolong bertakwa kepada Allah. Dan tentunya, hanya merekalah yang digolongkan orang-orang yang khusyu' dalam shalatnya. Yang dimaksud dengan ilmu di sini tentunya ilmu
yang shahih yang membuahkan amalan shalih. Karena itu Al-Hasan al-Bashri
pernah menyatakan: "Ilmu itu ada dua macam: ilmu ungkapan lidah, dan ilmu di sanubari.
Adapun ilmu sanubari, itulah ilmu yang bermanfaat. Sedangkan ilmu ungkapan lidah, adalah hujah Allah atas manusia." Allah berfirman:
"Apakah kamu yang lebih beruntung wahai orang-orang musyrik
ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam, dengan
sujud dan berdiri, sedangkan ia takut akan (adzab) akhirat dan
mengharapkan rahmat Rabb-nya..." (Az-Zumar: 9). Hendaknya Orang Yang Shalat Menyadari Bahwa Shalat Adalah Perjumpaan, Sekaligus Komunikasi Dirinya Dengan Allah. Hal itu telah diisyaratkan dalam hadits Nabi :
"Apabila seorang di antaramu sedang shalat, sesungguhnya dirinya
sedang berkomunikasi kepada Allah. Maka janganlah ia membuang
ludah ke hadapan muka, atau ke arah kanan; tapi hendaknya ia
membuangnya ke-sebelah kiri, atau di bawah telapak kakinya." Diriwayatkan oleh Al-Bukhari: 531, Muslim: syarah Nawawi: 5/40-41, An-Nasa'i: 1/163,
11/52-53 dan lain-lain.
Imam Nawawi berkata: "Sabda beliau: "… sesungguhnya ia sedang berkomunikasi kepada Rabb-nya...", merupakan isyarat akan pentingnya keiklasan hati, kehadirannya (dalam shalat) dan pengosongannya dari selain
berdzikir kepada Allah... " Jika shalat adalah komunikasi seorang hamba kepada Allah, dan itu sudah disadari oleh orang yang shalat; maka sudah selayaknya hal itu memacu dirinya untuk bersikap khusyu'. Karena diapun sadar, bahwa segala gerak hatinya, apalagi gerak tubuh kasarnya, pasti selalu diperhatikan oleh Allah.

Ikhlash Dalam Melaksanakannya.
Keikhlasan adalah ruh aural. Allah berfirman:
"Yang menjadikan hidup dan mati, agar Dia menguji kamu; siapakah
di antara kamu sekalian yang terbaik amalannya." (al-Mulk: 2)
Berkenaan dengan ayat ini; Fudhail bin Iyyadh pernah menyatakan:
"Yang dimaksudkan dengan yang terbaik amalannya, adalah yang
paling ikhlas dan paling benar." Satu amalan yang dianggap pelakunya sudah ikhlas, bila tak mencocoki ajaran syari'at, tak akan diterima. Demikian juga amalan yang benar sesuai ketentuan, namun tidak ikhlas karena Allah, juga tak ada gunanya. Ikhlas, artinya hanya untuk Allah. Benar, artinya menuruti, Sunnah Rasul . Satu amalan yang dilakukan dengan ikhlas, dengan sendirinya akan mudah meleburkan diri si hamba secara menyeluruh ke dalam ibadah itu sendiri. Karena tak satupun menurut keyakinannya yang pantas menguras perhatian dirinya selain Allah.(Lihat Syarhu Shahih Muslim V/40-41, Lihat Al-Hilyah - oleh Abu Nu'aim: V111/59, Tafsir al-Baghwi: 1V/369, Zadul Masir:1V/79).

Mengkonsentrasikan Diri Hanya Untuk Allah
Dalam shahih Muslim diriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda:
"Seandainya seorang hamba (sesudah berwudhu dengan baik) tegak
melakukan shalat, memuji Allah, menyanjung-Nya, mensucikan diri-Nya yang mana itu memang merupakan hak-Nya, mengkonsentrasikan diri hanya mengingat Allah; maka ia akan keluar dari
shalatnya laksana bayi yang baru dilahirkan." Al-Imam Ibnu Katsir menyatakan:
"Sesungguhnya kekhusyu'an dalam shalat itu hanya dapat dicapai
oleh orang yang mengkonsentrasikan hatinya untuk shalat itu,
disibukkan oleh shalat hingga tak mengurus yang lainnya; sehingga
ia lebih mengutamakan shalat dari amalan yang lain."

Menghindari Berpalingnya Hati Dan Anggota Tubuh
Dari Shalat Aisyah pernah bertutur:
"Aku pernah bertanya kepada Rasulullah tentang berpalingnya wajah
di kala shalat, ke arah lain. Beliau menjawab: "Itu adalah hasil curian setan dari shalat seorang hamba."
Ath-Tayyibi menyatakan:
"Dinamakan dengan "hasil curian", menunjukkan betapa buruknya
perbuatan itu. karena orang yang shalat itu tengah menghadap Allah,
namun setan mengintai dan mencuri kesempatan. Apabila ia lengah,
setan langsung beraksi!
Diriwayatkan oleh Muslim: 832 dan Ahmad: IV/ 112-385, dari hadits Amru bin Abasah.Diriwayatkan oleh Al-Bukhari: 571, Abu Dawud: 910, Tirmidzi: 589, an-Nasa'i: III/7dan lain-lain.

Imam Ash-Shan'ani menyatakan:
"Sebab dimakruhkannya berpaling tanpa hajat di kala shalat, karena
itu dapat mengurangi kekhusu'an, dan dapat juga menyebabkan
sebagian anggota badan berpaling dari kiblat. Juga karena shalat
itu adalah menghadap Allah.

Merenungi Setiap Gerakan Dan Dzikir-Dzikir Dalam Shalat
Imam Ibnul Qayyim pernah menyatakan:
"Ada satu hal yang ajaib, yang dapat diperoleh oleh orang yang
merenungi makna-makna Al-Qur'an. Yaitu keajaiban-keajaiban
Asma dan Sifat Allah. Itu terjadi, tatkala orang tadi menuangkan
segala curahan iman dalam hatinya, sehingga ia dapat memahami
bahwa setiap Asma dan Sifat Allah itu memiliki tempat (bukan
dibaca) di setiap gerakan shalat.
Artinya bersesuaian. Tatkala ia tegak berdiri, ia dapat menyadari
ke-Maha Terjagaan Allah, dan apabila ia bertakbir, ia ingat akan
ke-Maha Agung-an Allah."

Memelihara Tuma'ninah (Ketenangan), Dan Tidak
Terburu-buru Dalam Shalat
Allah berfirman: "Dan apabila kamu sudah tenang, maka dirikanlah shalat..." (An- Nisa': 103)
Ayat di atas jelas mengisyaratkan bahwa ketenangan, adalah faktor vital dalam
shalat yang harus diperhatikan. Sehingga "keharusan" shalat bagi seorang
mukmin di saat-saat berperang dengan orang-orang kafir, dilakukan kala ia sudah kembali tenang. (Lihat Subulu as-Salam I/ 309-310, Lihat Ash-Shalah karya Ibnul Qayyim).

Hal ini juga terpahami jelas dari hadits tentang "Shalat orang yang asal-
asalan", yang lalu dikoreksi oleh Nabi. Bahkan orang itu disuruh mengurangi
shalatnya dengan sabda beliau, yang artinya: "...dan ruku'lah sehingga kamu tuma'ninah dalam ruku' itu. Lalu tegaklah berdiri sampai kamu tuma'ninah dalam berdiri...dst"

Semangat Dalam Melakukannya
Ini satu hal yang lumrah. Karena tatkala seseorang shalat dengan seenaknya,
malas dan tidak bersemangat; jelas tak akan dapat diharapkan kehusyu'annya.
Oleh sebab itu, dalam hadits yang diceritakan Anas bin Malik disebutkan bahwa
Rasulullah pernah memasuki masjid. Tiba-tiba beliau melihat ada tali yang
direntangkan antara dua tiang masjid tersebut.
Beliau lantas bertanya: "Untuk apa tali ini?" Para shahabat menjawab: "Itu punyanya Zainab. Kalau dia lagi lemas waktu shalat, itu dijadikan tempat berpegangan." maka beliau bersabda, yang artinya: "Lepaskan tali itu. setiap kamu itu hendaknya shalat dengan bersemangat. Kalau dia memang merasa capek, ya istirahat dulu." Rasulullah juga pernah bersabda, "Apabila salah seorang di antara kamu mengantuk, sedangkan ia tengah melakukan shalat; hendaknya ia tidur terlebih dahulu sehinga hilang rasa mengantuknya. Karena kalau ia shalat terus, jangan jangan, ia ingin beristighfar malah mencaci dirinya sendiri" . Berkenaan dengan hal itu, Imam An-Nawawi pernah menyatakan:
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari: 757, 793, 6251 dan lain-lain, Muslim: 397, Abu Dawud: 956 dan yang lainnya. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari: 1150, Muslim: 784 dan lain-lain. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari: 212, Muslim: 786, Abu Dawud: 1310, At-Tirmidzi: 388, an-Nasa'i: 11215-216, Ibnu Majah: 1370, Ahmad: VI/ 56, 202, 259, ad-Darimi: 1373 dan Malik dalam Al-Muwattha': 31/118, dari hadits Aisyah.)
11. "Hadits tersebut mengandung anjuran agar seorang hamba itu shalat
dengan konsentrasi penuh, khusyu', terfokus pikirannya kepada Allah
dan dengan semangat. Hadits tersebut juga menyuruh orang yang
mengantuk selagi shalat itu untuk tidur dulu, atau melakukan hal
lain yang dapat menghilangkan rasa kantuknya." Dalam hal ini, nampak sekali kesalahan sebagian kaum Muslimin yang menganggap shalat yang khusyu' itu cenderung harus dilakukan dengan lemah gemulai dan tak bertenaga. Kalau kita tilik kembali tata cara shalat yang diajarkan Nabi akan kita dapati bahwa seluruh gerakan shalat secara kolektif ternyata harus dilakukan dengan bersemangat, bukan dengan melemas-lemaskan tubuh.
Ambil contoh misalnya: ruku'. Di saat melakukan ruku', orang yang shalat
diperintahkan untuk meluruskan punggung. Namun disamping itu ia juga
diperintahkan untuk membengkokkan sedikit kedua tangannya. Konsekuensinya,
ia harus melakukan gerakan itu dengan perhatian penuh.
Contoh lain, kala bersujud. Di saat bersujud, seorang mukmin harus
meluruskan punggungnya, meluruskan pahanya, meletakkan dengan tepat tujuh
anggota sujud, menekankan kening ke bumi, bertumpu pada kedua belah telapak tangan, merapatkan kedua telapak kaki, mengarahkan dengan penuh jari-jari kaki kearah kiblat, merenggangkan kedua lengan, menjauhkan perut dengan bumi; disamping juga berdzikir, memanjangkan sujud dan lain-lain. Semuanya itu, tak syah lagi, hanya bisa dilakukan dengan penuh perhatian dan semangat yang tinggi.

Memilih Tempat Shalat Yang Sesuai
Artinya yang memenuhi syarat agar bisa membuat shalat kita menjadi khusyu'.
Tempat tadi paling tidak harus memenuhi beberapa kriteria berikut:
1. Tenang, dan jauh dari keributan yang ditimbulkan mungkin oleh
penuh sesaknya orang-orang yang shalat, sehingga membikin suara yang
mengganggu. Sesungguhnya Nabi pernah marah ketika dalam shalat beliau
mendengar suara ribut di belakangnnya.(Lihat Syarhu an-Nawawi VI/74).

2. Hadirnya para malaikat. Artinya, kita menghindari hal-hal/sesuatu yang
menghalangi malaikat (rahmat) untuk memasuki tempat kita menunaikan
shalat. misalnya, lukisan benda bernyawa, atau anjing. Karena Nabi
bersabda: "Para malaikat tidak akan memasuki satu rumah yang
didalamnya ada lukisan benda bernyawa, atau anjing." Imam al-Khitabi menjelaskan: "Yang dimaksud di situ adalah para malaikat yang datang membawa rahmat dan berkah, bukan para malaikat yang mencatat amalan
seorang hamba. Karena mereka (yang kedua) itu tak pernah berpisah
dengan manusia." Di antaranya lagi, suara- suara musik. Juga termasuk di antaranya suara bell lonceng. Karena Nabi pernah bersabda: "Sesungguhnya lonceng itu adalah seruling-seruling setan."

Menghindari Segala Yang Menyibukkan Dan Mengganggu Sahalat
Termasuk dalam lingkaran larangan itu, shalat di kala makanan sudah
dihidangkan; atau shalat di kala sedang menahan buang air kecil atau besar.
Nabi bersabda yang artinya: Janganlah salah seorang di antara kamu shalat, kala makanan dihidangkan, atau kala menahan buang air." (Diriwayatkan oleh al-Bukhari: 4225, 3322, 4002, 5949, Muslim: 2106, Tirmidzi: 2804,
an-Nasa'i: 7/185-186, dan yang lainnya). (Lihat "Hasyiah as-Sindi `ala Ibnu Majah": 11/386. Diriwayatkan oleh Imam Muslim: 2114, an-Nasa'i dalam as-Sunan al-Kubra: 8812, Abu Dawud: 2556, Ahmad, dalam Musnadnya: 11/366-3720, al-Baihaqi dalam "as-Sunan al-Kubra": 5/253. Diriwayatkan oleh Muslim: 560, Ibnu Hibban: 195 dan al-Baghwi dalam "Syarhu as-Sunnah": 801.
Diriwayatkan dalam hadits al-Bukhari dan Muslim: 558, bahwasanya Ibnu
Umar pernah dihidangi makanan; saat itu adzan berkumandang, namun beliau
terus saja makan sampai selesai. Padahal beliau sudah mendengar suara bacaan
imam. Di antaranya yang lain: shalat di bawah terik matahari. 'Dalam hal ini
Rasulullah pernah bersabda, yang artinya:
"Apabila matahari bersinar terik / panas sekali, tundalah waktu shalat hingga cuaca dingin. Karena sesungguhnya panas yang terik itu berasal dari uap Narr Jahannam." Yang lainnya lagi: memandang (ketika shalat) sesuatu yang merusak konsentrasi. Dari Anas diceritakan, bahwa Aisyah memiliki kain korden berhias yang menutupi sebagian tembok rumahnya. Maka Rasulullah bersabda: "Singkirkan korden itu, Sesungguhnya gambar-gambarnya itu terus
terbayang dalam diriku di waktu shalat." Imam Ash-Shan'ani berkomentar:
"Sesungguhnya hadits itu mengandung larangan terhadap segala hal
yang dapat mengganggu shalat. Baik itu ukiran-ukiran, hiasan-hiasan
dan lain-lain.

Memanjangkan Bacaan
Memanjangkan bacaan surat dalam shalat, seringkali membantu proses kekhusyu'an, terutama bagi yang mengerti kandungan makna bacaan itu, atau
bagi orang yang dianugerahi Allah kelembutan jiwa. Rasulullah pernah ditanya: "Shalat bagaimana yang paling utama?" Beliau menjawab: "Yang panjang qunut/kekhusu'an nya." Imam Ibnul `Arabi menyatakan: "Aku mencoba menyelidiki sumber-sumber kekhusyu'an; lalu kudapati ada sepuluh perkara: HR. Al-Bukhari: 374 dan Ahmad: III/151 - 283.22HR. Muslim: 756, Tirmidzi: 387, Ibnu Majah: 1421 dan al-Baghwi dalam Syarhu as Sunnah: 559-560.

Ketaa'atan, ibadah, kesinambungan melakukan amal shalih, shalat,
bangun malam, berdiri panjang (dalam shalat), berdoa, ketundukan,
diam tenang, dan tidak menoleh-noleh. Kesemuanya adalah alternatif
yang saling terkait. Namun yang paling berpengaruh adalah: ketundukan, berdiam diri dan bangun malam."

Hendaknya kita shalat, seperti shalatnya orang yang akan bepergian jauh (meninggalkan alam fana) Rasulullah pernah menegaskan: "Apabila engkau melakukan shalat, maka shalatlah kamu, dengan shalatnya orang yang akan meninggalkan alam fana...". Yang dimaksud, agar kita shalat dengan shalatnya orang yang rindu untuk berjumpa Allah. Bukan shalatnya orang yang gila dunia, yang menjadikan dunia dan segala kesibukannya sebagai bayangan yang selalu terukir dalam benak. Masih ada juga beberapa kiat khusyu' lainnya dalam shalat. Cukup dikutip sebagian di antaranya; sekedar untuk memacu diri kita agar memperbaiki kualitas shalat kita. Menghiasi dan menyempurnakannya dengan kekhusyu'an; sehingga pada akhirnya, akan menjadikan kita sebagai mukmin yang penuh keberuntungan, dunia dan akhirat. Lalu, kita berdoa kepada Allah agar kita dijauhkan dari mereka yang disebutkan dalam firman Allah:
"Maka sungguh satu kecelakan yang besar bagi meraka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata:" (az-Zumar: 22) (Lihat "Al-'Aridhah". Dikeluarkan oleh Ibnu Majah: 4171, Ahmad: 5/412 dan dihasankan oleh al-Albani dalam" Shahih aljami' ash-Shaghir": 1/265).

[+/-] Selengkapnya...

Fiqih Ringkas Tentang Puasa


Shaum atau puasa secara bahasa bermakna al-imsak atau menahan diri dari sesuatu seperti menahan diri dari makan atau berbicara. Makna shaum seperti ini dipakai dalam ayat ke-26 surat Maryam. “Maka makan dan minumlah kamu, wahai Maryam, dan tenangkanlah hatimu; dan jika kamu bertemu seseorang, maka katakanlah saya sedang berpuasa dan tidak mau berbicara dengan siapapun.”

Sedangkan secara istilah, shaum adalah menahan dari dari dua jalan syahwat, mulut dan kemaluan, dan hal-hal lain yang dapat membatalkan pahala puasa mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari.

Keutamaan Bulan Ramadhan

Dari Ibnu Mas’ud, Rasulullah saw. bersabda, “Penghulunya bulan adalah bulan Ramadhan dan penghulunya hari adalah hari Jum’at.” (Thabrani)

Rasulullah saw. bersabda, ” Kalau saja manusia tahu apa yang terdapat pada bulan Ramadhan, pastilah mereka berharap Ramadhan itu selama satu tahun.” (Thabrani, Ibnu Khuzaimah, dan Baihaqi)

Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah saw. bersabda, “Apabila datang bulan puasa, dibuka pintu-pintu surga dan ditutup pintu-pintu neraka.” (Bukhari dan Muslim)

Rasulullah saw. juga bersabda, “Apabila datang malam pertama bulan Ramadhan, para setan dan jin kafir akan dibelenggu. Semua pintu neraka ditutup sehingga tidak ada satu pintu pun yang terbuka; dan dibuka pintu-pintu surga sehingga tidak ada satu pun yang tertutup. Lalu terdengara suara seruan, “Wahai pencari kebaikan, datanglah! Wahai pencari kejahatan, kurangkanlah. Pada malam itu ada orang-orang yang dibebaskan dari neraka. Dan yang demikian itu terjadi pada setiap malam.” (Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Keutamaan Puasa Ramadhan

Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan penuh harap, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Dan barangsiapa yang shalat malam pada bulan puasa, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Bukhari dan Muslim)

Waktu Berpuasa

Ibadah puasa dimulai sejak masuknya fajar shadiq (waktu shalat Subuh) hingga terbenamnya matahari (masuk waktu shalat Maghrib). Allah menerangkan di dalam al-Qur’an dengan istilah benang putih dari benang hitam.

Doa Berbuka Puasa

Jika berbuka puasa, Rasullullah saw. membaca, “Allahumma laka shumtu wa ‘ala rizqika afthartu.” Artinya, ya Allah, untukmu aku berpuasa dan dengan rezeki yang engkau berikan kami berbuka. Dan Rasulullah saw. berbuka puasa dengan kurma. Jika tidak ada, cukup dengan air putih.

Sunnah-sunnah Dalam Berpuasa

Sebelum berpuasa, disunnahkan mandi besar dari junub, haidh, dan nifas. Bagi orang yang berpuasa, disunnahkan melambatkan makan sahur dan menyegerakan berbuka. Berdo’a sebelum berbuka.

Agar amalan puasa tidak rusak dan pahalanya tidak gugur, orang yang berpuasa disunnahkan menjaga anggota badan dari maksiat, meninggalkan obrolan yang tidak berguna, meninggalkan perkara syubhat dan membangkitkan syahwat.

Disunnahkan memperbanyak tilawah Al-Qur’an, memberi makan orang puasa untuk berbuka, dan memperbanyak sedekah. Di sepuluh hari terakhir, sangat dianjurkan beri’tikaf.Yang Dibolehkan Tidak Berpuasa

1. Orang yang safar (dalam perjalanan). Tapi, ada ulama yang memberi syarat. Seseorang boleh tidak berpuasa di bulan Ramadhan dan menggantinya di bulan lain, jika safarnya menempuh lebih dari 89 km dan safarnya bukan untuk maksiat serta perjalanannya dimulai sebelum fajar. Namun Imam Hanbali membolehkan berbuka, walaupun safarnya dimulai pada siang hari. Alasan dibolehkannya berbuka adalah karena safar mengandung masyaqqah (kesusahan). Jika seseorang yang safar mengambil rukshah ini, ia wajib mengganti puasanya itu di hari lain sejumlah hari ia tidak berpuasa.

2. Orang yang sedang sakit. Sakit yang masuk dalam kategori ini adalah sakit yang dapat menghambat kelangsungan ibadah puasa dan berdampak pada keselamatan fisik jika dia tetap berpuasa. Untuk memutuskan dan menilainya, diperlukan pendapat dokter. Jika seseorang tidak berpuasa karena sakit, ia wajib mengganti puasa yang ditinggalkannya di bulan lain ketika ia sudah sehat.

3. Wanita hamil dan ibu yang menyusui. Wanita hamil atau ibu menyusui boleh tidak berpuasa, tapi harus menggantinya di hari lain. Jika dia tidak berpuasa karena takut dengan kondisi dirinya sendiri, maka hanya wajib bayar qadha’ saja. Tapi jika dia takut akan keselamatan janin atau bayinya, maka wajib bayar qadha’ dan fidyah berupa memberi makan sekali untuk satu orang miskin. Hal ini diqiyaskan dengan orang sakit dan dengan orang tua yang uzur.

4. Orang yang lanjut usia. Orang yang sudah lanjut usia dan tidak sanggup puasa lagi tidak wajib puasa, tapi wajib bayar fidyah dengan memberi makan seorang miskin sebanyak hari yang ditinggalkan.

5. Orang yang mengalami keletihan dan kehausan yang berlebihan. Jika kondisi itu dikhawatirkan mengganggu keselamatan jiwa dan akal, maka boleh berbuka dan wajib qadha’.

6. Orang yang dipaksa (ikrah) tidak berpuasa. Orang seperti ini boleh berbuka, tapi wajib mengqadha’.

Permasalahan Sekitar Puasa

1. Untuk puasa Ramadhan, wajib memasang niat berpuasa sebelum habis waktu sahur.

2. Saat berpuasa seorang suami boleh mencium isterinya, dengan syarat dapat menahan nafsu dan tidak merangsang syahwat.

3. Orang yang menunda mandi besar (janabah) setelah sahur atau setelah masuk waktu subuh, puasanya tetap sah. Begitu juga dengan orang yang berpuasa dan mendapat mimpi basah di siang hari, puasanya tetap sah.

4. Dilarang suami-istri berhubungan badan di siang hari ketika berpuasa. Hukuman bagi orang yang bersenggama di siang hari pada bulan Ramadhan adalah memerdekakan budak. Jika tidak mampu memerdekakan budak, suami-istri itu dihukum berpuasa dua bulan penuh secaara berturut-turut. Jika tidak mampu juga, mereka dihukum memberi makan 60 orang miskin sekali makan. Kalau perbuatannya berulang pada hari lain, maka hukumannya berlipat. Kecuali, pengulangannya dilakukan di hari yang sama.

5. Orang yang terlupa bahwa ia berpuasa kemudian makan dan minum, maka puasanya tetap sah. Setelah ingat, ia harus melanjutkan puasanya hingga waktu berbuka di hari itu juga.

6. Hanya muntah yang disengaja yang membatalkan puasa. Ada tiga perkara yang tidak membatalkan puasa: bekam, muntah (yang tidak disengaja), dan bermimpi (ihtilam). Sikat gigi atau membersihkan gigi dengan syiwak diperbolehkan. Hal ini biasa dilakukan oleh Rasulullah saw. Tapi, ada ulama yang memakruhkan menyikat gigi dengan pasta gigi setelah matahari condong ke Barat.

7. Orang yang mempunyai hutang puasa tahun sebelumnya, harus dibayar sebelum masuk Ramadhan yang akan berjalan. Jika belum juga ditunaikan, harus dibayar setelah Ramadhan yang tahun ini. Tapi, ada ulama berpendapat, selain harus diqadha’ juga diwajibkan memberi makan orang miskin.

8. Para ulama sepakat bahwa orang yang wafat dan punya utang puasa yang belum ditunaikan bukan karenakan kelalaian tapi disebabkan ada uzur syar’i seperti sakit atau musafir, tidak ada qadha yang harus ditanggung ahli warisnya. Tapi jika ada kelalaian, ada sebagian ulama mewajibkan qadha terhadap ahli warisnya dan sebagian lain mengatakan tidak.

9. Bagi mereka yang bekerja dengan fisik dan terkategori berat –seperti pekerja peleburan besi, buruh tambang, tukang sidang, atau yang lainnya– jika berpuasa menimbulkan kemudharatan terhadap jiwa mereka, boleh tidak berpuasa. Tapi, wajib mengqadha’. Jumhur ulama mensyaratkan orang-orang yang seperti ini wajib baginya untuk sahur dan berniat puasa, lalu berpuasa di hari itu. Kalau tidak sanggup, baru boleh berbuka. Berbuka menjadi wajib, kalau yakin kondisi ketidak sanggupan itu akan menimbulkan kemudharatan.
Last Updated ( Thursday, 05 June 2008 15:35 )Oleh: Mochamad Bugi (www.dakwatuna.com)
http://www.darussalam-tamanyasminbogor.com/index.php?option=com_content&view=article&id=104:fiqih-ringkas-tentang-puasa&catid=35:artikel&Itemid=109

[+/-] Selengkapnya...

Monday, September 15, 2008

Do'a Rabithah


Ya Allah, Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini
telah berhimpun dalam mencintai-Mu,
telah bertemu dalam mentaati-Mu,
telah bersatu dalam menyeru-Mu,
telah berpadu dalam membela syariat-Mu,
kokohkanlah, ya Allah, ikatannya,
kekalkanlah cintanya,
tunjukilah jalan-jalannya,
Penuhilah hati-hati ini dengan cahaya-Mu yang tak pernah pudar,
lapangkanlah dada-dada kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu
dan keindahan bertawakkal kepada-Mu,
hidupkanlah hati kami dengan ma'rifat-Mu,
wafatkanlah kami dengan syahadah di jalan-Mu.
Sesungguhnya Engkau-lah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik pembela.
Ya Allah, amin.

diambil dari :http://ilhamprinting.blogspot.com/

[+/-] Selengkapnya...

Sebesar - besar Dosa Hamba Allah SWT

قَالَ رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :
أَكْبَرُ الْكَبَائِرِ الْإِشْرَاكُ بِاللَّهِ وَقَتْلُ النَّفْسِ وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ وَقَوْلُ الزُّورِ أَوْ قَالَ وَشَهَادَةُ الزُّورِ (صحيح البخاري

Sabda Rasulullah saw :
“Sebesar besar dosa adalah menyekutukan Allah swt, dan membunuh manusia, dan durhaka pada orang tua, dan sumpah palsu” (Shahih Bukhari)


ImageAssalamu’alaikum warohmatullahi wabarokaatuh,
Limpahan puji kehadirat Allah Swt yang mengundang ruh dan jiwa kita untuk mendekat kehadirat-Nya yang menerangi jiwa kita dengan cahaya yang melebihi terang benderangnya cahaya matahari, cahaya matahari yang tiada akan pernah bisa menembus jiwa dan perasaan, cahaya matahari terbit dan terbenam, cahaya matahari akan berakhir di akhir zaman.

Tabir Rabbul Alamin menerangi jiwa kita dengan cahaya iman, dengan cahaya tauhid, dengan cahaya Laaillahaillallah Muhammad Rasulullah cahaya terbesar dan teragung yang melebihi cahaya alam semesta melebihi cahaya bintang dan matahari karena cahaya itu menerangi jiwa menuju Allah.

Mengundang sanubari mendekat kehadiratul Rabb mengundang jiwa untuk meninggalkan kemungkaran dan menuju keluhuran, menuju kesucian, menuju taubat, menuju maghfiroh, menuju akhlak, menuju kebahagiaan dunia dan akhirat, menuju kesuksesan dunia dan akhirat itulah cahaya iman yang terbuka darinya seluruh rahasia rahmat illahi, rahmat yang kekal, rahmat yang abadi, kasih sayang yang kekal, kasih sayang Allah yang abadi.

Terbuka dengan kalimat Tauhid, ketika jiwa tidak menyekutukan Allah, tidak menyembah selain Allah, tidak mengakui Tuhan selain Allah, maka terbuka baginya kebahagiaan yang kekal dan baginya datang pengampunan.

Jika ia tidak mendapati pengampunan dengan didalam hidupnya, maka akan datang di alam barzahnya, jika tidak di barzahnya maka di yaumal qiyamah. Sebesar apapun dosanya selama ia tidak menyembah selain Allah, pasti ia akan mencium wanginya surga. Apakah ia melewati musibah di dunia atau melewati siksa kubur atau melewati siksa neraka, pasti ia akan berakhir di surga, selama ia tidak menyembah selain Allah.

Bersabda Nabiyyuna Muhammad Saw sebesar-besarnya dosa adalah menyembah selain Allah. Inilah dosa yang tidak dimaafkan, apa maksud dosa yang tidak dimaafkan disini? Hadirin hadirat semua dosa diterima oleh Allah taubatnya, termasuk menduakan Allah, tapi harus taubat dulu. Yang dimaksud dosa yang tidak diampuni itu maksudnya jika ia tidak bertaubat, mati dalam keadaan itu, kalau dia orang yang tidak menduakan Allah, ia akan menemui pengampunan Allah pada akhirnya. Ia kena siksa kubur, zina, mencuri, mabuk kena dahsyatnya dan pedihnya siksa kubur, menggelepar, menjerit di alam barzah, jika ia wafat belum bertaubat, barangkali kena api neraka tapi akan mencium baunya surga dan akan mendapatkan pengampunan.

Tapi mereka yang menyekutukan Allah tidak mendapatkan pengampunan, kalau ia tidak bertaubat, kalau ia kembali kepada islam maka tentunya ia mendapatkan pengampunan. Sebagian orang mengatakan kalau sudah menyekutukan Allah tiada pengampunan lagi, betul tiada pengampunan jika tidak bertaubat, jika ia kembali kepada Allah, pengampunan Allah tidak pernah tertutup bagi para pendosa.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah,
Demikian Agung-Nya Allah memuliakan hamba-hamba Nya yang berada didalam shaf dan kelompok tauhid, kelompok muslimin muslimat jauh berbeda dengan yang diluar islam walau mereka mendapatkan kebahagiaan di muka bumi, tapi kebahagiaan yang semu dan fana.

Mereka tidak mendapatkan kebahagiaan yang kekal, bermilyar dan berjuta tahun, kebahagiaan yang sepuluh dua puluh tahun yang tiada artinya, menanti kebahagiaan yang abadi dan mereka tidak mendapatkannya kecuali mereka yang muslimin muslimat yang tiada menyembah selain Allah dan mengakui Nabi Muhammad Saw utusan Allah. Ketika mereka sudah mengakui Laaillahailallah Muhammadurrasulullah, maka mereka dimuliakan oleh Allah Swt dimuliakan oleh Nabi Muhammad Saw dihargai walaupun ia pendosa.

Diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari ketika Usamah bin Zaid radhiyallahhuanhum didalam salah satu peperangan, salah seorang pemimpin kuffar jatuh senjatanya dan orang-orang anshar yang sedang mengerubutinya meninggalkannya karena melihat senjatanya sudah jatuh, Usamah bin zaid Ra melihat ini pimpinan orang kafir, musuh islam, suka menyiksa orang muslim juga, maka ia mengangkat pedangnya dan orang itu mengucap “Laaillahailallah Muhammadurrasulullah” dan Usamah bin Zaid Ra tetap memukulkan pedangnya dan membunuhnya.

Sampai kabar kepada Nabi Muhammad Saw, Rasul Saw memanggil Usamah bin Zaid Ra, “wahai Usamah kau bunuh orang itu setelah ia mengucap Laaillahailallah Muhammadurrasulullah?", Usamah berkata “dia itu cuma melindungi dirinya, dia itu tidak mau bersyahadat dengan sungguh sungguh, cuma ngucap saja pura-pura syahadat".

Tentunya kita memahami iman para sahabat radhiyallahhuanhum, jika orang itu betul-betul syahadat, tidak akan dibunuh akan tetapi karena ia mengucapkan syahadat dengan mencemooh setelah jatuh pedangnya “Asyhadu an laaillahaillallah wa asyhadu anna Muhammad Rasulullah” dibunuh oleh Usamah bin Zaid Ra "dia cuma melindungi dirinya saja dan berpura-pura". Maka Rasul Saw seakan-akan tidak mendengar ucapan Usamah bin Zaid seraya berkata “Usamah kau bunuh dia setelah dia mengucapkan syahadat?" maka Usamah menjawab lagi “dia cuma pura-pura ya rasulullah, cuma melindungi dirinya". Rasul seakan-akan tidak mendengar dan sekali lagi mengulang dengan ucapan yang sama.

Jadi kesimpulannya, kau bunuh dia setelah mengucapkan syahadat ya Usamah? maka Usamah radhiyallahhuanhum berkata dalam hatinya “seandainya aku belum masuk islam baru masuk islam hari ini ”, maksudnya apa? malu sekali punya dosa yang demikian besar hingga Rasul saw berkali-kali mengulangnya.

Bahkan riwayat Shahih Muslim tadi riwayat Shahih Bukhari, kalau dalam Shahih Muslim dijelaskan “bagaimana nanti pertanggung jawabanmu atas ucapan Laaillahaillah di hari kiamat?, bagaimana kalau Laaillahailallah Muhammadurrasulullah menuntutmu wahai Usamah di hari kiamat?". Rasul saw diminta syafaat oleh Usamah seraya berkata “ya Rasulullah beri aku syafaat, mohonkan pengampunan kepada Allah agar aku bisa mendapat pengampunan atas dosaku ini". Rasul saw menjawab seakan Rasul Saw tidak mendengar "apa yang akan engkau pertanggungjawabkan dihari kiamat".

Ini hebatnya hadirin hadirat ketika seseorang telah mengucap syahadat, demikian ihtirom kita terhadap sesama muslimin-muslimat yang telah mengucap syahadat. Mengenai mereka-mereka yang keluar dari syahadat tentunya ihtirom kita sesama makhluk saling menghargai tetapi tentunya lebih terhadap mereka yang mengucapkan syahadat.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah,
Yang kedua Rasulullah saw berkata sebesar-besar dosa tadi adalah menduakan Allah, yang kedua “membunuh". Ini dosa membunuh dosa nomor dua paling besar dari semua dosa.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah,
ketika seseorang membunuh maka ia telah melakukan satu dosa, karena telah menghabisi nyawa orang-orang yang diberi nyawa oleh Allah swt akan tetapi kita lihat disini riwayat Shahih Bukhari bagaimana Allah swt terus mengejar hamba-hamba Nya yang berdosa dengan pengampunan.

Ketika salah seorang di zaman sebelum sang Nabi dan Rasul Saw menceritakan diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari seorang yang telah membunuh 99 jiwa. 99 orang telah ia bunuh dan ia ingin bertaubat, bagaimana taubatnya? Itu hadirin - hadirat orang yang membunuh tentunya kalau dituntut oleh ahli warisnya maka ia harus dibunuh, kalau tidak minta darahnya maka boleh minta sebanyak 100 ekor unta yang hamil atau harganya berupa uang harga 100 ekor unta yang hamil itu harganya 1 jiwa ganti ruginya, maksimal boleh kurang, boleh dimaafkan, kalau seandainya dimaafkan oleh keluarganya ya selesai tidak ada tuntutan, kalau seandainya menuntut ya boleh ia menuntut nyawa, kalau mau minta harta berarti maksimalnya 100 ekor unta yang hamil atau harganya berupa uang.

Ini 99 kali membunuh mau taubat orang ini, mau ditaruh dimana dosaku?. Dia datang kepada seorang ulama dan ulama itu berkata “tidak ada pengampunan untukmu 99 kali membunuh, dosa paling besar nomor dua membunuh, ini 99 kali membunuh”. Maka orang ini marah dan membunuh ulama itu, sudah 99 kali membunuh dan yang keseratus ulama yang dibunuh. Ia berfikir ingin taubat lagi sudah seratus kali berbuat dosa yang nomor dua paling besar dari semua dosa. Ada yang pernah mengatakan, “mau kau pengampunan?, pergi kesana, ke kampung orang shalih, ardhusshalihin, sana istighfar, doa kepada Allah ibadah barangkali Allah terima taubatmu”.

Maka ia pun berangkat kesana, ditengah perjalanan wafat, wafat ditengah perjalanan belum sampai kesana belum melakukan ibadah apapun. Maka Rasul saw meneruskan ceritanya, ketika kejadian itu maka diukurlah mana yang lebih dekat jarak, jarak antara dia dengan tempat terakhir terdekat, dekat ke arah terakhir membunuh ulama atau lebih dekat ketempat perkampungan shalihin yang akan dia tuju, kalau lebih dekat kesana ketujuannya, maka ia diampuni oleh Allah dilimpahi rahmat Allah karena niat, tapi kalau lebih dekat kesini, maka ia dilimpahi azab karena memang belum pernah berbuat ibadah.

Ini orang bertaubat tapi belum beramal shalih amal buruknya 100 kali membunuh, amal shalihnya sedikit maka Allah swt melihat jarak antara dia ke arah tujuannya dengan arah terakhir ia membunuh, sama-sama tidak lebih kesana, tidak lebih kesini. Lalu bagaimana dengan orang ini, Allah memerintahkan bumi agar merapat ke arah ardhusshalihin dan memuai ke arah bumi terakhir kali ia membunuh.

Ini perintah Allah, maka bumi patuh memang bumi milik Allah, setiap debu yang diatas bumi memang milik Allah, memang bumi tidak ada kalau bukan Allah yang mencipta, hewan dan tumbuhan tidak pernah ada kalau bukan Allah yang menciptakan, Allah yang menciptakan seluruh sifat, seluruh warna seluruh bentuk makhluknya, seluruh kehidupan bumi pun taat dengan perintah Allah. Kita lihat maka hamba itu lebih dekat ke tempat abdhusshalihin, maka ia di dalam pengampunan Allah, siapa? Orang yang sudah 100 kali membunuh dengan berbuat dosa nomor dua dari dosa yang paling besar.

Demikian luasnya hadirin hadirat pengampunan Rabbul Alamin, betapa meruginya mereka yang masih meragukan maafnya Allah, betapa meruginya mereka yang menolak lamaran Allah jalla wa’ala untuk mendekat. Hadirin hadirat demikian luasnya rahmat illahi, maka bagaimana dengan kita yang masih duduk santai dan menunda-nunda taubat di bulan taubat ini.

Hadirin hadirat yang dmuliakan Allah,
Yang ketiga adalah "durhaka pada ayah dan bunda". Hadits ini riwayat Shahih bukhari dan juga dijelaskan di dalam Shahih Muslim Al Imam Nawawi hujjatul islam wabarakatul a’nam dalam Syarah Nawawi ala Shahih Muslim memberi kejelasan makna kalimat ini adalah seseorang itu wajib taat kepada seluruh perintah ayah bundanya dan seandainya ia tidak mampu taat, maka yang dilarang adalah menyakiti hati ayah bundanya, itu yang dilarang dalam kalimat u’quq walidain.

Jadi yang dilarang itu menyakiti ayah bundanya, kalau seandainya ia tidak mampu taat perintah ayah bundanya ya tidak apa-apa, akan tetapi yang dikatakan dosa durhaka kepada kedua orangtua yaitu menyakiti hati mereka, jadi kalau seandainya kita tidak mau diperintah oleh orangtua maka menolaknya dengan indah menolaknya itu dengan lembut dengan kasih sayang dan ramah. Inilah cara penolakan, walaupun kita tidak mampu melaksanakan perintah ayah bunda, kita menolaknya dengan kasih sayang.

Demikian hadirin hadirat, karena apa? karena berbakti kepada orangtua pahalanya melebihi jihad, sebagaimana riwayat Shahih Bukhari, Rasul Saw ditanya “amal apa yang paling afdhal?", Rasul Saw menjawab “sholat pada waktunya", yang kedua adalah "bakti kepada orangtua", dan yang ketiga baru "jihad fisabilillah".

Diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari bahwa ketika salah seorang pemuda datang kepada Rasul Saw “ya Rasulullah aku ingin ikut hijrah bersamamu” , maka Rasul Saw menjawab “apakah kau memiliki ayah bunda?" maka ia menjawab “punya yaa Rasulullah", "bagaimana kau tinggalkan ayah bundamu mereka ridho?" Maka ia menjawab “aku tinggalkan mereka berdua itu dan menangis", maksudnya tidak ridho berat meninggalkan anaknya. Rasul saw menjawab "sekarang kembali kau".

Rasul Saw tahu, ini ayah bundanya cinta pada anaknya, tidak mau kulepas dan tidak mau berpisah dengan anaknya, anaknya ini pahlawan jihad, maka Rasul Saw menjadikan dua masalah ini bersatu, anaknya diperintahkan kembali, “kembali kau pada ibumu, bakti kau pada ayah ibumu, sebagaimana kau buat mereka menangis, sekarang kau harus buat mereka tersenyum dan dalam perbuatanmu itu pahala jihad”. Kau ingin pahala jihad? kembali bakti pada ayah bundamu, buat mereka tersenyum itu pahala jihad, jadi membuat ayahbunda tersenyum itu mendapat pahala jihad.

Hadirin hadirat diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari, ketika Abu Hurairah Ra akan datang pada Rasul “ya Rasulullah”, beliau menangis, Rasul Saw bertanya “kau ini kenapa ya abu hurairah?" Abu hurairah Ra berkata “ibuku ya Rasulullah tidak mau masuk islam”, musyrik, musyrikan kaffiran. Malu aku sujud siang malam aku ini, ibuku ini tidak mau masuk islam, bahkan ia memaksaku untuk keluar dari islam. Ini anak yang berbakti kepada ibunya, Abu Hurairah Ra cinta kepada ibunya. Ibunya memaksa ia keluar dari islam, ia tidak mau keluar dari islam, karena apa? “jangan mau taat kepada makhluk untuk bermaksiat kepada Allah". Keluar dari islam tentu perintah ibunya, Abu Hurairah Ra tidak mau, tapi dia tidak berbuat buruk kepada ibunya, tidak mencacinya, tidak memarahinya.

Ia datang kepada Rasul Saw, “lalu apa yang kau mau ya aba hurairah?”, Abu Hurairah Ra menjawab “doakan agar ibuku ini dapat hidayah”. Disinilah hadirin-hadirat, baktinya Abu Hurairah Ra kepada ibunya, ia tidak marah kepada ibunya, tidak membentaknya, beliau datang kepada Rasulullah Saw, menangis minta didoakan supaya ibunya dapat hidayah. Inilah bakti, maka Rasul Saw mengangkat tangannya tinggi dan berdoa untuk ibunya Abu Hurairah “wahai Allah beri hidayah untuk ibunya abu hurairah”, Abu Hurairah Ra pulang ke rumahnya.

Beberapa menit balik lagi, wajahnya cerah, Rasul Saw bertanya “ya Abu Hurairah, kau datang sekarang dengan wajah yang berbeda, tadi dengan sedih sekarang dengan cerah kenapa?", Abu Hurairah menjawab “Ibuku masuk islam ditanganku, ya rasulullah”. Doa Sayyidina Muhammad Saw dan juga diikuti dengan anak yang shalih, bakti kepada ibunya. Beda seandainya Abu Hurairah Ra berkata dari awal, “ibu kalau kau seandainya memaksaku keluar dari islam silahkan, mau mati, mau kelaparan, mau marah silahkan, aku tidak akan keluar dari islam”. Perbuatan ini benar tapi bukan bakti.

Bakti kepada orang tua adalah mencari cara supaya ibunya dapat hidayah, maka Rasul Saw cerah wajahnya, maka Rasulullah Saw berdoa “wahai Allah ampunilah Abu Hurairah dan ibunya Abu Hurairah dan orang yang mendoakan Abu Hurairah dan ibunya Abu Hurairah” sejak itu Anas Bin Malik Ra yang meriwayatkan hadist ini berkata “sejak itu kami selalu mendoakan Abu Hurairah dan ibunya, karena orang yang mendoakan Abu Hurairah Ra dan ibunya didoakan oleh Rasul saw” karena apa? karena baktinya Abu Hurairah kepada ibunya.

Diriwayatkan dalam Adabul Mufrad oleh Imam Bukhari bahwa Abu Hurairah Ra itu kalau mau pergi, dan ia bangunkan rumah khusus untuk ibunya disebelah rumahnya. Kalau ia mau keluar rumah pasti salam dulu di pintu rumah ibunya “Assalamu’alaikum wahai ibunda", kalau belum dijawab Abu Hurairah tidak akan bergerak dari pintu rumah ibunya, berdiri tegak sampai ibunya menjawab diijinkan pergi, kalau tidak beliau radhiyallahhuanhum tetap berdiri di depan pintu ibunya. Pulang tidak masuk rumahnya sebelum lagi berdiri dipintu rumah ibunya mengucap salam kepada ibunya. Demikian hebatnya para sahabat radhiyallahhuanhum mewarisi kemuliaan ini.

Hadirin hadirat yang terakhir adalah "sumpah palsu". Malam selasa yang lalu, sudah saya perjelas bahwa ketika kita menyebut nama Allah, demi Allah tapi ternyata ada yang lebih baik daripada itu, maka sebaiknya ia membayar kafaratnya lantas ia meninggalkan sumpahnya. Misalnya berkata “Demi Allah, kalau sampai temanku itu kujumpai akan kutampar”, misalnya begitu. Temannya berbuat salah lantas ia berfikir bahwa itu dosa, aku ini sumpah atas nama Allah untuk dosa, boleh ia tinggalkan sumpahnya bayar kafaratnya lalu aku tidak menjalankan sumpahku, boleh, karena apa? karena hal yang membawa manfaat meninggalkan sumpahnya lebih maslahat, tapi sebaliknya kau boleh zuhr adalah sumpah palsu.

Al Imam Nawawi dalam Syarah Nawawi ala Shahih Muslim dijelaskan yang dimaksud sumpah palsu disini, ia bersumpah untuk menutupi sebuah aib, ia tutupi dengan nama Allah. Ia bersumpah dengan nama Allah untuk menutupi suatu aib, misal ia seorang pedagang dagangannya ada aibnya orang yang membeli tanya “ini ada aibnya tidak?”, “Demi Allah tidak ada aibnya ini sempurna padahal ada aibnya”, ucapan ini adalah derajat keempat dari dosa yang paling besar.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah,
Demikianlah Allah swt mengatur kesempurnaan hidup kita ini dan Allah swt tiada henti-hentinya melimpahkan rahmat dan kebahagiaan kepada kita, pengampunanNya tiada pernah terhenti. Kita bermunajat kepada Allah Swt semoga Allah Swt memuliakan jiwa kita dan jasad kita selalu dalam rahmat dan keberkahan.

Yaa Rahman Yaa Rahiim kami berdoa untuk kedua mempelai yang baru saja menikah agar dilimpahi cahaya keberkahan dhahiran wa bathinan dan ayah-ayah mereka dan ibu-ibu mereka agar dilimpahi kebahagiaan.

Yaa Rahman Yaa Rahiim dan juga para tamu-tamu kami khususnya yang datang dari jauh daripada rombongan fadhilathul ustadz da’i illaAllah Al Ustadz Muhammad zuhiri mata’anallahubihi, imam Masjid Jami Al Falah, Subang Jawai, Kuala Lumpur bersama jamaahnya semoga dilimpahi keberkahan dhahiran wa bathinan, Jazakumullah Khair mereka telah datang berkunjung kepada kita disini semoga Allah menyatukan jiwa kita untuk selalu bersilaturahmi, di dalam silaturahmi yang nabawiy.

Yaa Rahman Yaa Rahiim dan kita juga berdoa untuk diri kita semua semoga Allah menghapus seluruh dosa-dosa kita sehingga Allah terus mendekatkan kita kehadirat-Nya Yaa Rahman Yaa Rahiim terus tambahkan hidayah pada jiwa kami yaa Rabb.

Yaa Rahman Yaa Rahiim tambahkan kemuliaan dalam hari-hari kami, kemuliaan dunia dan akhirat, ashshiyabul maknawiyah keberkahan Rabbiy Rabbiy Yaa Rahman Yaa Rahiim limpahkan atas kami dunia dan akhirat Yaa dzal jalali wal ikram Yaa dzatauhid wal in’am.

Wahai Yang Menguasai setiap nafas Wahai Yang Menguasai setiap sel tubuh kami, Wahai Yang Maha Melihat, Wahai Yang Maha Mendengar, Wahai Yang Maha Menguasai keadaan, Wahai Yang Maha Mengetahui apa yang akan terjadi esok pada seluruh diri kami yang hadir, Wahai Yang Maha Melihat semua yang akan terjadi esok pada semua kami yang hadir, Wahai Yang Maha Melihat seluruh jiwa kami dan seluruh dosa-dosa kami, Yaa Rahman Yaa Rahiim kami mengadukan dosa kami, kami mengadukan buruknya amal kami, kami mengadukan lemahnya ketaatan kami, kepada siapa kami mengadukan dosa kalau bukan kepada samudera pengampunan, kepada siapa kami mengadukan buruknya amal kalau bukan kepada Yang Maha Merubah Keadaan, kepada siapa kami mengadukan keadaan kami dan kelemahan kami dalam taat kalau bukan kepada Yang Maha Memberi Kekuatan.

Yaa Rahman Yaa Rahiim terangi jiwa kami dengan NamaMu terangi hari-hari kami dengan cahaya NamaMu terangi bibir kami dan hari-hari kami dengan keberkahan Nama-Mu .

Fa kullu jami’an yaa Allah yaa Alla. yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah.

Hadirin hadirat mintalah kepada Allah agar menerangi detik-detik dan hari-harimu dengan NamaNya Yang Maha Luhur hingga kebahagiaan tercurah dan rahmat pada setiap detik dalam setiap nafasmu berdoalah kepada Allah agar Allah jadikan setiap nafas kita adalah adalah keagungan Nama-Nya Allah jadikan hari-hari kita hari-hari taubat lalu Allah jadikan hari-hari kita hari-hari keberkahan.

Hadirin hadirat jangan bosan memanggil nama Allah adakah dalam jiwamu terlintas sudah cukup aku memanggil nama Allah segitukah rindu kita kepada Allah sebatas itukah keinginan kita untuk rindu dan cinta kepada Allah serulah Nama-Nya lampiaskan kerinduan kita kehadirat-Nya.

Fa kullu jami’an yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah ya Allah yaa Allah yaa Allah ya Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah ya Allah yaa Allah yaa Allah yaa Allah.

Yaa Allah undang jiwa kami untuk khusyuk, Rabbiy undang jiwa kami untuk mau bersujud, yaa Allah ya Allah ya Allah ya Allah ya Allah ya Allah ya Allah ya Allah ya Allah ya Allah ya Allah ya Allah ya Allah ya Allah ya Allah, Yaa Dzal jalali wal ikram Yaa dzatauhid wal in’am.

Hadirin-hadirat malam rabu yang akan datang kita semua Insya Allah diberi kesempatan hadir dan bagi saudara-saudari kita yang bisa hadir untuk perkumpulan di malam mi’raj Nabi Muhammad saw. Kita akan berdzikir Yaa Allah sebanyak 1000X semoga bergemuruh jiwa kita cahaya Nama Allah Swt, Insya Allah dihadiri lebih dari 300.000 muslimin muslimat, kita gemparkan dan kita gegarkan bumi Jakarta dengan Nama Allah Jalla Wa’ala.

Hadirin hadirat kita akan melihat jamaah Sayyidina Muhammad Saw berkumpul dimalam isra wal mi’raj, malam rabu yang akan datang. Bagi yang mempunyai kesempatan untuk hadir, silahkan hadir dan yang tidak mempunyai kesempatan maka doakan acara sukses dan dalam acara yang akan datang ini dan mereka yang mampu untuk turut mengundang teman dan saudanya, jadikanlah hari-hari kita berbakti pada Allah Swt dan Rasul Saw dengan handphone kita, dengan sms kita, dengan telepon kita, dengan kendaraan kita, dengan bibir kita, dengan harta kita, dengan semua yang kita mampu baktikan untuk suksesnya acara isra wal mi’raj dan dzikir bersama Majelis Rasulullah Saw, inilah syiar besar kita untuk menenangkan muslimin muslimat dari api fitnah dan untuk demi terangkatnya segala musibah dari muslimin muslimat.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah,
Semoga acara ini akan sukses dan semoga kita semua dilimpahi keberkahan disingkirkan dari segala rintangan yang muncul dalam pengadaan acara ini, yaa rahman yaa rahiim, sekaligus juga saya mengumumkan pindahnya Markas Majelis Rasulullah Saw dari alamat yang di Tebet ke wilayah Pengadegan pada alamat yang baru dan telah dibagikan kepada hadirin-hadirat alamat dan nomor teleponnya dan semoga markas yang baru ini kembali menjadi Fattah dan pembuka kemenangan bagi dakwah Nabi kita Muhammad Saw .

Kita doakan tamu-tamu kita, Al Habib Musthofa, tamu-tamu kita dari Kuala Lumpur dan guru kita fadhilathul ustadz da’i illaAllah K.H. Khairullah, fadhilathul ustadz da’i illaAllah K.H. Hasan Khalid dan imam masjid Jami Annuur Bpk. K.H. Muhammad Shafi dan juga keluarga besar kedua mempelai semoga dilimpahi keberkahan dhahiran wa bathinan dan tamu kita yang akan kembali ke luar negeri esok lusa yang akan datang semoga dilimpahi keberkahan dan semoga mempunyai waktu tamu-tamu dari Singapura dan Kuala Lumpur untuk hadir malam rabu yang akan datang Wassalallahu wassallam wabarik 'ala Nabina Muhammadin wa'ala alihi washohbihi wassallam, Dan acara ini akan dihadiri oleh beberapa pejabat - pejabat kita, kita bersatu dengan para pejabat kita agar diterangi cahaya dzikir, agar mereka lebih peduli kepada islam, lebih peduli kepada dakwah. Pemimpin-pemimpin kita, pejabat-pejabat kita, kita kumpulkan di acara malam rabu yang akan datang agar mereka terang benderang dengan cahaya dzikir dan lebih peduli kepada dakwah islamiyyah dan kepentingan islam. Walhamdulillahirabbil'alamin.wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Diambil dari:
http://majelisrasulullah.org/

[+/-] Selengkapnya...

Wednesday, August 27, 2008

10 Alternatif Kegiatan Di Bulan Ramadhan

“Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan puasa kepada kalian sebagaimana (puasa) telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian, agar kalian menjadi orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Al Baqarah: 183)

Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kepada orang-orang yang beriman sebagaimana firmanNya di atas agar berpuasa sebulan penuh pada bulan Ramadhan. Bulan tersebut adalah bulan yang sangat dinanti-nanti oleh kaum muslimin di seluruh dunia karena di dalamnya terdapat hikmah yang agung.

Kadang kita perlu beberapa agenda kegiatan yang dapat memberi manfaat bagi diri kita sendiri sehingga dapat terhindar dari kegiatan-kegiatan yang tidak berfaedah, bahkan malah mendapatkan dosa. Agar puasa kita berjalan seperti apa yang kita inginkan, berikut ringkasan 10 alternatif kegiatan di bulan Ramadhan yang bisa kita lakukan:

1. Berusaha agar senantiasa bisa mendapatkan takbiratul ihram yang pertama bersama imam dalam seluruh shalat jama’ah lima waktu yang kita kerjakan di masjid, karena Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Barang siapa yang shalat karena Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa selama empat puluh hari berjama’ah dan mendapati takbiratul ihram yang pertama maka ia akan dibebaskan dari dua hal: dibebaskan dari api neraka dan dibebaskan dari kemunafikan.” (HR. Imam At Tirmidzi)

2. Shalat Shubuh berjama’ah di masjid, kemudian duduk untuk berdzikir dan membaca al Qur`an sampai terbit matahari. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam:
“Barang siapa yang shalat shubuh berjama’ah, kemudian duduk berdzikir sampai terbit matahari, kemudian shalat dua raka’at maka dicatat baginya (pahala) haji dan umrah secara sempurna, sempurna, sempurna.” (HR. Imam At Tirmidzi)

3. Belajar dan bekerja dengan penuh semangat dan kesungguhan karena bulan Ramadhan adalah bulan amal dan jihad.

4. Memperbanyak bersedekah ke fakir miskin, membantu orang yang kesusahan dan mengikuti kegiatan-kegiatan sosial yang bermanfaat bagi dunia dan akherat Anda.

5. Setelah melakukan shalat ‘Ashar anda bisa berdzikir, istighfar, bertahlil, membaca dzikir petang sampai waktu berbuka.

6. Ketika berbuka, Anda ingat bahwa orang yang berpuasa memiliki do’a yang tidak akan ditolak ketika berbuka puasa, maka jangan lupa berdoa baik untuk diri sendiri maupun mendo’akan saudara sesama kaum muslimin.

7. Setelah shalat maghrib, jangan terlalu banyak makan agar dapat melaksanakan shalat isya dan tarawih dengan tenang dan khusyu’. Manfaatkan waktu ini untuk membaca buku-buku yang bermanfaat.

8. Setelah shalat Tarawih, ada waktu luang yang bisa digunakan untuk mendapatkan berbagai pengetahuan agama (melalui membaca), bershilaturahim, mengunjungi orang yang sakit dan lain-lain. Hindari kegiatan yang tidak ada manfaatnya, membuang-buang waktu atau menonton acara-acara yang diharamkan oleh Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa. Karena malam-malam bulan Ramadhan sama dengan siangnya. Kita juga diwajibkan untuk menjaga seluruh anggota tubuh untuk tidak melakukan hal-hal yang diharamkan.

9. Manfaatkan malam-malam bulan Ramadhan juga gunakan untuk istirahat, kemudian bangun sebelum shubuh untuk makan sahur.

10. Hidupkan salah satu sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam yaitu i’tikaf.
“Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam jika memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan mengencangkan sarungnya (tidak menggauli istrinya), menghidupkan malamnya dan membangunkan istrinya (untuk shalat malam).” (HR Bukhari dan Muslim)

Mudah-mudahan Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa menerima amalan kita semua.

diambil dari : http://dheryudi.wordpress.com/

[+/-] Selengkapnya...

Sifat+Cara Puasa Nabi di bulan Ramadhan (bagian 1)

Rekan-rekan, seperti janjiku, insya ALLOH aku akan menurunkan artikel mengenai cara Rasululloh SAW berpuasa di bulan Ramadhan. Artikel ini akan muncul dalam 6 bagian, agar ringkas sehingga mudah dibaca dan dicerna serta tidak sulit untuk diterapkan.

Silakan sebarkan artikel ini, insya ALLOH kita akan menuai kebajikan dari tiap amalan yg dilakukan :)

Artikel ini ringkasan dari kitab Sifat Saum Nabi fi Ramadhan
Karya Syaikh Ali Hasan dan Syaikh Salim Alhilai

1. Keutamaan Puasa
Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mu’min, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam keta`atannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu`, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar. (Al Ahzab : 35)

a. Puasa adalah perisai
Puasa adalah perisai, dengannya seorang hamba terjaga dari api neraka (hadits shahih riwayat Ahmad)

b. Puasa memasukkan ke surga
Dari Abu Umamah, ia berkata, aku bertanya Wahai Rasulullah tunjukkan kepadaku suatu amal yang memasukkanku ke surga, Nabi bersabda : Hendaknya engkau berpuasa, tiada yang menyamainya. (Hadits riwayat Nasai, ibnu Hibban, dan Hakim dan sanadnya shahih)

c. Orang yang berpuasa mendapatkan pahala tanpa hisab
d. Bagi orang yan berpuasa ada dua kegembiraan
e. Bau mulut orang yang berpuasa lebih harum disisi Allah dari bau kasturi

Dalil-dalil (c) , (d), (e) :

Dari Abu Hurairah ia berkata : Rasulullah bersabda : Setiap amal manusia terdapat pahala yang terbatas kecuali puasa, sesungguhnya puasa adalah untuk-Ku dan Aku (Allah) yang membalasnya, dan puasa adalah perisai. Dan pada hari puasa janganlah kalian mengatakan atau melakukan perbuatan keji dan janganlah membuat gaduh, jika salah seorang kalian mencelanya atau membunuhnya maka hendaklah mengatakan : Sesungguhnya aku sedang berpuasa , demi Dzat yang jiwa Muhammad berada ditangannya benar-benar bau mulut orang yang berpuasa lebih harum disisi Allah dari bau kasturi, bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan yang ia gembira dengan keduanya : jika berbuka ia gembira, dan jika bertemu Allah dengan puasanya ia gembira. (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim)

Dan dalam riwayat Bukhari :
Ia tinggalkan makanan dan minumannya serta syahwatnya lantaran-Ku, puasa adalah untukku, dan Aku yang akan membalasnya, dan kebaikan itu adalah sepuluh kali lipat semisalnya”.

Dan dalam riwayat Muslim :
Setiap amal manusia dilipatgandakan kebaikannya sepuluh kali lipat semisalnya hingga tujuh ratus kali lipat, Allah berfirman : kecuali puasa sesungguhnya puasa aku yang membalasnya, ia tinggalkan syahwat dan makanannya hanyalah lantaran AKU. Bagi orang yang berpuasa terdapat dua kegembiraan, kegembiraan ketika berbuka puasa, dan kegembiraan ketika bertemu dengan Rabbnya, dan bau mulut orang yang berpuasa lebih harum disisi Allah dari bau kasturi.

f. Puasa dan Al Qur’an akan memberi syafaat orang yang mengamalkannya
Rasulullah bersabda :
Puasa dan Al Qur’an akan memberi syafaat bagi seorang hamba pada hari kiamat, berkata puasa : Ya Allah, Engkau telah mencegah orang yang berpuasa dari makanan dan syahwat, maka berikanlah syafaatku padanya, dan berkata Al Qur’an : (Ya Allah) Engkau mencegahnya dari tidur pada malam hari, maka berikanlah syafaatku padanya, Allah berfirman :Keduanya akan diberi syafaat.
(Hadits riwayat Ahmad dan Hakim).

g. Puasa adalah kaffaarah (penghapus dosa)
Dari Hudzaifah bin Yaman ia berkata, Rasulullah bersabda :Fitnah laki-laki pada keluarganya, hartanya, anaknya, tetangganya, dihapuskan oleh shalat, puasa dan sedekah. (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim)

h. Pintu syurga yang bernama Ar Rayyan bagi orang yang berpuasa
Dari Sahl dari Nabi bersabda :Sesungguhnya dalam syurga terdapat sebuah pintu yang bernama Ar Rayyan, orang-orang yang berpuasa akan masuk melaluinya pada hariu kiamat, dan selain mereka tidak akan masuk melaluinya.
Dikatakan : Dimanakah orang-orang yang berpuasa? Maka mereka pun berdiri.
Dan selain mereka tidak akan memasukinya .
Maka jika orang-orang yang berpuasa sudah memasukinya ditutuplah pintu itu dan tidak seorangpun akan memasukinya, Dan barangsiapa yang telah masuk ia pasti minum dan barangsiapa yang minum ia tidak akan kehausan selamanya.
(Hadist riwayat Bukhari dan Muslim)

2. Keutamaan bulan Ramadhan
a. Bulan Al Qur’an
Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu. (Al Baqarah : 185)

b. Dibelenggunya Syaitan
Jika telah tiba bulan Ramadhan, dibukalah pintu-pintu syurga, ditutuplah pintu-pintu neraka, dan dibelenggulah syaitan-syaitan. (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim)

c. Lailatul Qadr
Tersebut dalam pembahasa no 19

3. Wajibnya puasa Ramadhan
a. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan maka itulah yang lebih baik darinya.
Dari keutamaan-keutamaan bulan Ramadhan diatas, Allah mewajibkan puasa Ramadhan atas kaum muslimiun, dan oleh karena memutuskan jiwa dari syahwatnya dan menutup jiwa dari keinginan-keinginan syahwat adalah perkara yang paling berat, maka diakhirkanlah wajibnya puasa Ramadhan hingga sampai tahun kedua hijriyah.

Dan tatkala hati-hati telah tertanam tauhid dan mengagungkan syiar-syiar Allah, maka dipindahkanlah hati dengan cara bertahap. Maka dimulailah awal kali dengan kebebasan memilih disertai anjuran untuk melaksakan puasa, karena dahulu puasa terasa berat oleh para sahabat,dahulu barangsiapa berkeinginan tidak berpuasa dan membayar fidyah maka ia melakukan hal itu, Allah berfirman :
Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (Al Baqarah : 184)

b. Karena itu barangsiapa hadir di negeri tempat tinggalnya pada bulan itu hendaknya ia berpuasa pada bulan itu. Lalu turunlah ayat sesudahnya menghapus hukum sebelumnya, dan mengabarkan tentang hal ini dua orang sahabat Nabi Abdullah bin Umar dan Salamah bin Al Aqwa (semoga Allah meridhai keduanya) :
(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).
Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.
Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.
Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.
(Al Baqarah : 185)

Dari Ibnu Abi Laila ia berkata : telah bercerita kepada kami sahabat-sahabat Nabi :Tatkala tiba bulan Ramadhan terasa berat hal ini oleh sahabat-sahabat Nabi, dahulu barangsiapa memberi makan setiap hari orang miskin ia meninggalkan puasa dan termasuk orang-orang yang berat menjalankannya, dan mereka diperbolehkan untuk melaksanakan seperti ini.
Maka dihapuslah hal itu dengan ayat :
Dan berpuasa lebih baik bagimu (Al Baqarah : 184)

Maka setelah itu puasa Ramadhan menjadi termsuk pondasi Islam, dan salah satu rukun dari rukun-rukun Agama, berdasarkan sabda Rasulullah :
Islam dibangun diatas lima perkara : Bersyahadat bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah, dan bahwasanya Muhammad adalah Rasulullah, dan mendirikan shalat,menunaikan zakat, menunaikan haji ke ka’abah, dan berpuasa Ramadhan. (Bukhari dan Muslim)


diambil dari : http://tausyiah275.blogsome.com/



[+/-] Selengkapnya...

Kelebihan Bulan Ramadhan


Daripada Anas (r.a), Katanya: Bersabda Nabi (s.a.w) : Tiada daripada seorang hamba apabila melihat ia sehari bulan Ramadan lantas dia memuji Allah ( kerana kedatangan bulan rahmat dengan kelebihan dan keistimewaanya) kemudian dibacanya Al-Fatihah tujuh kali, melainkan diafiatkan Allah daripada sakit matanya pada bulan ini.

* Kelebihan bulan Ramadan dan keagungannya dengan adanya malam Lailatul Qadar yang dirahsiakan, sehingga mendapat keampunan dan pahala serta darjat dan darjah tertinggi bagi orang yang berjaya mendapatkan malam Lailatul Qadar dengan dipenuhi amal ibadah dan bertaqwa kepada Allah, disamping sembahyangnya yang sunat , istiqfar, tasbih dan berzikir sepenuhnya.

Berkata Saidina Ali, Nabi (s.a.w) telah bersabda apabila engkau melihat sehari bulan maka bacalah olehmu “AllahuAkbar” 3 kali, kemudian bacalah :

(Segala kepujian bagi Allah yang telah menjadikan aku dan telah menjadikan engkau, dan telah menentukan bagi engkau pangkat-pangkat (darjah) dan telah menjadikan engkau tanda (kekuasaan) bagi sekalian alam) nescaya bermegah Allah akan Dia dengan malaikat dan firmanNya: Hai malaikat! saksikanlah kamu, bahwa Aku telah merdekakan daripada api neraka, atau dibacakan :

(Ya Allah, zahirlah Ramadan atas kami dengan keamanan dan keimanan dan dengan keselamatan dan keIslaman, Tuhanku dan Tuhan engkau Allah.)

Bersabda Nabi (s.a.w) : Bahawa syurga berlenggang-lenggang ia dan berhias dari setahun ke setahun kerana masuknya bulan Ramadan. Pada awal malam bulan Ramadan bertiup angin di bawah Arasy bergeraklah daun kayu lemah-longlainya di dalam syurga. Terdengarlah desiran daun-daun kayu, hembusan sang bayu syurga yang teramat indahnya. Seni rentak lagunya menawan seluruh perasaan nurani.

Maka berhiaslah bidadari sekaliannya lalu berdirilah di atas puncak mercu syurga itu. Lantas bersuaralah bidadari : Adakah orang yang hendak meminang kami kepada Allah, kata bidadari pula: Apakah malam ini namanya? jawab Malek Ridwan (malaikat), Hai bidadari yang cantik manis, inilah malam awal Ramadhan,

Lalu Allah berfirman: Hai Ramadan bukalah pintu syurga Bab AlJanan untuk orang-orang yang berpuasa daripada umat Muhammad (s.a.w). Hai Malek Ridwan tutuplah pintu neraka Al-Jahim daripada umat Muhammad (s.a.w), hai Jibrail belenggukan syaitan, lontarkannya ke dalam lautan supaya tidak membinasakan umat Muhammad akan puasanya.

Maka berfirman Allah pada tiap-tiap malam Ramadan tiga kali : Adakah orang yang meminta ampun? Akan Aku ampunkan!

Pada malam Lailatul Qadar menyuruh Allah Ta’ala akan Jibrail Alaihisalam turun ke bumi, lalu turunlah Jibrail ke dalam perhimpunan malaikat ke bumi bersamanya bendera hijau lalu dipacakkan ke atas Kaabah, baginya 600 sayapnya , setengahnya tiada dibuka keduanya, melainkan pada malam Lailatul Qadar baharulah dibukakan keduanya, hingga sampai dari timur ke barat ( Musyriq Ke Maghrib ).

Untuk menyelamatkan umat Muhammad, Lalu memberi salam kepada tiap orang yang berjaga pada malam Lailatul Qadar beribadah kerana mencari keredaan Allah, dan orang-orang yang duduk beribadah, orang yang sembahyang dan berzikir dan berjabat tangan sesama mereka mukmin dan mengucap amin doa orang-orang mukmin hingga terbit fajar subuh……. berkata para malaikat kepada Jibrail , apakah Allah berikan pada hajat orang mukmin dari umat Muhammad (s.a.w) pada bulan Ramadan ini?

Berkata Jibrail bahawasanya Allah menilik kepada umat Muhammad yang berpuasa dan beribadah padanya dan dimaafkan mereka, diampunkan dosa-dosa mereka, melainkan empat orang yang tiada diampunkan dosanya: yaitu orang yang kekal minum arak, orang yang derhakakan ibubapanya, orang yang memutuskan sillaturrahim dan orang yang tidak bercakap dengan saudaranya lebih dari 3 hari.

Apabila pada malam akhir Ramadan dinamakan malam persalinan. Pada malam hari raya Aidilfitri didatangkan Allah malaikat kepada tiap-tiap negeri turunlah mereka ke bumi, berdiri pada permukaan jalan menyeru dengan suara yang kuat, semua mendengarnya kecuali jin dan manusia berkata mereka, hai umat Muhammad keluarlah kamu menghadap tuhan yang amat mulia (sembahyang raya di pagi raya) yang memberi pemberian yang berpanjangan dan mengampun akan dosa-dosa yang besar. Apabila tibalah umat Muhammad ke tempat sembahyang, firman Allah kepada maliakat :

Hai malaikatKu, apakah balasan orang yang mengambil upah apabila selesai kerjanya ? Jawab malaikat , hai Tuhan kami, sempurnakanlah upahnya! Firman Allah bahawa Aku saksikan kamu hai malaikatku, telah aku jadikan pahala mereka dari puasa mereka pada bulan Ramadan mereka mendirikan sembahyang, ialah keredaanKu dan keampunanKu kepada mereka!

Maka firmannya lagi : Hai segala hambaku, pohonlah kamu kepada ku, maka demi ketinggianku dan kebesaranku, tiada memohon kepadaku hari ini akak sesuatu bagi agamamu dan duniamu, melainkan Aku kurniakan kepadamu! (Al-Hadith).

Sabda Nabi (s.a.w) : Diberi kepada umatku lima perkara yang belum pernah diberi kepada umat-umat dahulu sebelumnya :

a) Bau mulut orang berpuasa lebih harum daripada kasturi di sisi Allah
b) Segala perbelanjaan dan derita lapar selama puasanya adalah syurga balasannya.
c) Diampunkan dosa-dosa mereka pada malam Lailatul Qadar.
d) Amalan yang dilakukan pada bulan Ramadan digandakan kepada 10 hingga 700 kali ganda, melainkan puasa maka ianya bagiKu, Aku balas kepadanya yang berkuasa menahan syahwatnya, makan minumnnya kerana Aku.
e) Dan mereka dikurniakan nikmat kepada mereka keseronokkan ketika berbuka dan ketika menemui tuhan di akhirat.(Al-Hadith)

Sabda Nabi (s.a.w) : Menunaikan yang sunat diberi balasan pahala fardhu, dan amal fardhu diberi balasan 70 kali ganda. Bulan puasa adalah bulan sabar (sabar dalam berbuat taat kepadaNya.), dan sabar itu adalah syurga balasannya bulan ini dilebihkan rezeki kepada hambanya orang mukmin, diampunkan baginya dosa-dosa. Barang siapa memberi makan kepada orang berpuasa pahalanya seperti memerdekakan hamba dan diampunkan dosanya, berkata sahabat :

Bagaimana kami tak sanggup memberi makan orang yang berpuasa (berbuka puasa) ya Rasullullah - Allah memberi pahala ini kepada orang yang memberi seteguk susu atau sebiji kurma atau segelas air, barang siapa kenyangkan orang berpuasa diampunkan Tuhan dosanya, diminumkan Tuhan dari kolam Hudh sejenis minuman yang tiada dahaga lagi kemudiannya hingga masuk ia ke syurga dan pahalanya seperti pahala orang berpuasa. (Al-Hadith)

Puasa menurut segala yang disuruh dan menjauh segala pantang larangannya, diampunkan dosanya, dan bertasbih, bertahlil dibinakan rumah indah dalam syurga.

* Barang siapa hadir ke dalam majlis zikir pada bulan Ramadan, ditulis tiap langkahnya ibadat setahun, dan pada hari Qiamat bersamaku di bawah Arasy. Siapa tetap berjemaah dalam bulan puasa didirikan kota bercahaya indah, cemerlangnya , dan yang berbakti kepada ibubapanya Allah memandang rahmat kepadanya, dan isteri yang berbuat sesuatu mencari keredaan suaminya, maka pahala yang besar Allah kurniakan kepadanya , seperti Siti Maryam dan siapa yang menyampaikan hajat orang mukmin, Allah menunaikan seribu hajatnya, dan siapa bersedekah kepada fakir miskin (yang ada anak isteri) tiap langkah dikurniakan kepadanya seribu kebajikan, dihapuskan seribu kejahatan dan diangkatkan seribu darjat baginya. (Al-Hadith).

Orang yang sembahyang bulan Ramadan tiap sekali sujud, dikurniakan kepadanya 1700 kebajikan, dan dibinakan rumah didalam syurga daripada permata bagi orang yang berpuasa dan beribadat, 75000 malaikat meminta ampun baginya dari pagi hingga tenggelam matahari, dan dibina sebuah mahligai baginya . (Al-Hadith)

* Pada hari Qiamat, Allah memerintah Malek Ridwan supaya dikeluarkan orang-orang berpuasa daripada kuburnya dengan keadaan lapar dan dahaga, lalu disuruh Malek Ridwan berikan segala keinginan mereka dari segala macam makanan dan minuman syurga. Maka Malek Ridwan memerintah kepada anak-anak membawa talam-talam makanan , minuman dan buah-buahan sebagai balasan berlapar di bulan Ramadan. (A-Hadith)

Orang mukmin yang tidur dalam bulan puasa kerana puasa Ramadan, dia membalikkan badannya sambil meyebut Allah! maka kata malaikat kepadanya : Rahimakallah (Allah Mencucuri Rahmat kepada kamu.)

- Apabila dia berdiri maka berdoalah hamparannya : (Wahai Tuhanku, kurniakanlah kepadanya hamparan permaidani tebal kepadanya di dalam syurga)
- Apabila memakai pakaian , berdoalah pakaian (Wahai Tuhanku, kurniakan kepadanya pakaian syurga)
- Apabila memakai kasut, berdoalah kasut (Wahai Tuhanku, tetapkanlah atas titian Siratul Mustaqim!)
- Apabila memegang timba berdoalah pula timba : (Wahai Tuhanku kurniakan kepadanya gelas syurga!)
- Apabila mengambil air sembahyang , berdoalah air itu : (Wahai Tuhanku sucikannya daripada segala dosa dan kesalahan!)
- Apabila berdiri sembahyang , berdoalah rumahnya: ( Wahai Tuhanku cahayakanlah kuburnya dan luaskanlah , lapangkanlah kuburnya!)

Serta menilik Allah kepadanya , maksudnya : HambaKu berdoa dan Aku menerima! (Al-Hadith)
Malaikat yang banyak muka bersujud kepada Allah pada hari Qiamat, satu muka sujud , satu muka melihat syurga, satu muka melihat neraka, satu muka melihat Arasy , lalu berkata malaikat itu : Wahai Tuhanku , ampunlah umat Muhammad, kasihanilah mereka! janganlah disiksa orang yang berpuasa Ramadan dari umat Muhammad! (Al-Hadith)

* Keredaan Allah (bagi orang yang taat)
* Keampuan Allah (bagi orang yang maksiat)
* Jaminan Allah (bagi orang yang taat)
* Kejinakan Allah (bagi orang yang tawakkal)
* Anugerah Allah (bagi orang yang benar).
o Ramadan, Ramada, ertinya : membakar - yakni menghapuskan dosa dosa orang yang berpuasa dan beribadat bulan Ramadan.
o Ramadan ertinya bulan mendapatkan keredhaan Allah dan keampunan bagi hambaNya.

* Orang yang mendapat keredhaan dan keampunan Allah bererti memberi jaminan (kerana ibadatnya pada bulan mulia dengan penuh taat) mendapat syurga anugerah Allah bagi hambaNya yang benar benar melakukan ibadat kerana Nya pada bulan Ramadan termulia ini dengan ganjaran pahala sehingga seribu kali ganda dan keampunan yang banyak sekali, teristimewa pada malam Lailatul Qadar.

“Bahawa di dalam syurga terdapat bilik bilik, dilihat dari luar nampak di dalamnya dan dilihat dari dalam kelihatan di luarnya, berkata sahabat : untuk siapakah ya Rasulullah? Lantas Baginda menjawab : Ialah bagi orang yang baik percakapannya, bagi orang yang memberi makan makanan, bagi orang yang sentiasa berpuasa, bagi orang yang sembahyang di tengah malam sedang manusia banyak tidur.” (Al Hadith)

“Semulia mulia sedeqah ialah sedeqah pada bulan Ramadhan.” (Al Hadith)

“Puasa itu perisai dan sedeqah itu memadam kesalahan dosa sepertimana air memadamkan api.” (Al Hadith)

“Siapa memberi makan ( berbuka puasa) kepada orang puasa makan baginya seumpama balasan pahala orang yang berpuasa dengan tidak kurang sedikitpun .” (Al Hadith)

Sabda Nabi (s.a.w) : Tiada daripada seorang hamba berpuasa Ramadan, diam tiada berkata yang sia sia dan daripada yang haram dan yang makruh, dan sentiasa menyebut Allah (berzikrullah), menghalalkan yang dihalalkan Allah, mengharamkan akan yang diharamkan Allah, tiada mengerjakan kejahatan, melainkan sehingga berakhir Ramadan, telah diampunkan baginya segala dosanya, dan tiap tasbih, tiap tahlil, dibinakan sebuah rumah yang terindah di dalam syurga daripada permata zamrud, di dalamnya daripada yaqut merah indah, di dalam rangka permata itu (yaqut) terdapat sebuah khemah, di dalamnya terdapat bidadari ( hurul ain isteri syurga). Terhias dengan permata bercahaya indah yang menerangkan bumi seluruhnya.(Al Hadith)

* Sabda Nabi (s.a.w) : Bahawasanya bagi Allah beberapa kejadianNya, dijadikan mereka supaya menyampaikan segala hajat orang dan supaya orang meminta tolong kepada Nya, pada menyempurnakan segala hajat yang diperlukan, mereka itulah orang yang aman daripada siksa Allah (Riwayat At Tibrani) (Al-Hadith)

Sabda Nabi (s.a.w) : Bahawa pintu langit dan pintu syurga dibuka pada awal Ramadan hingga akhir malam Ramadan, tiap orang yang bersembahyang pada malamnya dituliskan baginya tiap satu sujud 1700 kebajikan, dibina rumah baginya di dalam syurga daripada yaqut merah indah, baginya 70 pintu daripada emas yang bertatah yaqut permata yang merah, orang yang berpuasa pada awal Ramadan diampunkan segala dosanya hingga ke akhir bulan Ramadan, dibinakan baginya tiap tiap hari sebuah mahligai di dalam syurga, mempunya 1000 pintu daripa emas, dan meminta ampun baginya 70 000 malaikat dari pagi hingga tenggelam matahari (Al Hadith)

* Sabda Nabi (s.a.w) : Kelebihan hari Jumaat pada bulan Ramadan atas segala hari yang lainnya seperti kelebihan Ramadan atas segala bulan (Al Hadith)
Barangsiapa mengerjakan ibadat pada bulan Ramadan dengan keimanannya dan ikhlasnya kerana Allah, maka di ampunkan segala dosanya yang telah lalu (Al Hadith)
Sabda Nabi (s.a.w) : Tidur orang yang berpuasa itu adalah ibadat, dan nafasnya itu adalah tasbih, doanya itu mustajab, dosanya diampunkan Allah, dan amal ibadatnya dilipatgandakan . (Al Hadith)

Apabila berakhir bulan Ramadan, menangis wali-wali Allah kerana terpisahnya bulan yang paling mulia yang digandakan ibadat berlipatkali ganda daripada bulan bulan yang lainnya, bulan Allah mudah menerima ampun taubat hambaNya, bulan yang banyak sekali diturun rahmat ke alam, bulan yang terdapat padanya malam Lailatul Qadar, suatu rahmat dan rahsia yang dikurniakan kepada hamba hamba Nya yang salihin, yang tidak terdapat pada bulan bulan yang lainnya. Mereka menangis kerana belum tentu akan dapat menemui bulan termulia ini pada tahun tahun hadapan, kiranya dipanjangkan umur.

* Apabila berakhirlah malam bulan Ramadan, menangislah tujuh petala langit dan tujuh petala bumi, dan segala malaikat, jerana berlalu Ramadan berlalulah kelebihan, sebab musibah bagi umatku, dan duduk segala malaikat bagi musibah, orang bertanya : Ya Rasullullah, apa itu musibah ? Jawab rasullullah (s.a.w), Kerana segala doa padaNya itu mustajab, sedakah makbul, segala kebajikan digandakan dan siksa kubur diangkat, maka apakah musibah yang terlebih besar daripada ini bagi umatku?! (Al-Hadith)

Malam Lailatul Qadar adalah malam rahsia, yang turunnya padanya malaikat Jibrail dan beberapa malaikat dengan perintah Allah. Orang yang berjaga dengan malam ibadatnya untuk mendapatkan malam Lailatul Qadar yang terahsia itu yang tidak diketahui oleh manusia, hanya orang-orang solihin yang hampir, orang berusaha mendapatkan malam mulia itu dengan berjaga malam pada sepuloh malam Ramadan yang terakhir maka diampunkan tuhan segala dosanya. Di pahalakannya dengan banyak , dirahmatkannya dengan limpah kurnia. Dan orang-orang solihin yang dikurniakan Allah mendapat malam Lailatul Qadar itu satu keberuntungan kebahagiaan bagi akhirat, mendapat keampunan dan rahmat terbesar, mendapat pimpinan Allah dalam hatinya, mendapat keredaan Allah dalam hidupnya dunia dan akhirat.

* Malam Aidilfitri, malam raya, disunatkan kepada kita berjaga malam, beribadah, bertakbir “AllahuAkbar” sepanjang malamnya. Akan mendapat keampunan yang banyak, pahala yang besar, rahmat Allah tercurah kepadanya. Siapa yang menghidupkan dua malam raya (AidilFitri & AidilAdha) dengan ibadatnya dan takbirnya , tiada dimatikan hatinya pada hari yang dimatikan segala hati. (Al-Hadith).

*** Petikan dari buku Fadilat Rejab, Syaaban, Ramadan oleh Budiman Radhi
diambil dari : http://klcc.wordpress.com/

[+/-] Selengkapnya...

Monday, August 18, 2008

Pelajaran Isra’ dan Mi’raj

“Maha Suci Allah, yang Telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang Telah kami berkahi sekelilingnya[847] agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya dia adalah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui” Al-Isra: 1

“Lalu dia menyampaikan kepada hambaNya (Muhammad) apa yang Telah Allah wahyukan. Hatinya tidak mendustakan apa yang Telah dilihatnya. Maka apakah kaum (musyrik Mekah) hendak membantahnya tentang apa yang Telah dilihatnya? Dan Sesungguhnya Muhammad Telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada syurga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya.” An-najm: 10-16


Tidak terasa bahwa kita sudah berada di bulan Rajab yang mulia, berarti beberapa bulan ke depan kita akan bersua kembali dengan bulan yang penuh berkah, Ramadhan Al-Mubarak. Di mulai dari bulan Rajab inilah Rasulullah mempersiapkan diri dan keluarganya untuk menyambut kedatangan tamu agung Ramadhan dengan berbagai persiapan istimewa demi menggapai kesempurnaan dan kebaikan Allah swt. yang berlimpah ruah. Dengan berdoa: “Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikanlah kami berjumpa dengan bulan Ramadhan.”

Salah satu peristiwa besar yang hanya terjadi sekali seumur kehidupan manusia adalah peristiwa isra dan mi’raj Rasulullah saw. Isra’ berarti perjalanan Rasulullah di malam hari dari Masjdil Haram di Mekah menuju Masjidil Aqsha di Palestina. Sedangkan mi’raj berarti dinaikannya Rasulullah menghadap Allah di sidratil muntaha.

Peristiwa yang maha agung ini menunjukkan keagungan Rasul yang terpilih untuk menjadi subjek dalam peristiwa ini. Dalam beberapa riwayat, Rasuullah bahkan menjadi imam sholat bagi seluruh para nabi sebelumnya. Keagungan Rasul ini tentu menjadi kebanggaan dan kebahagian kita selaku umatnya dengan tetap mempertahankan dan memelihara kemuliaan tersebut dalam kehidupan kita. Jika tidak, maka berarti kita telah mengotori kemuliaan tersebut. Apalagi dengan sengaja menyalahi aturan dan sunnahnya. Na’udzu biLlah.

Peristiwa isra’ dan mi’raj diabadikan oleh Al-Qur’an dalam surah yang dinamakan dengan peristiwa tersebut, yaitu surah Al-Isra’. Bahkan peristiwa inilah yang mengawali surah ini. Simaklah firman Allah swt.:

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al-Isra’: 1).

Dalam riwayat Imam Ahmad, disebutkan bahwa Rasulullah senantiasa membaca surah ini bersama surah Az-Zumar pada malam hari.

Sudut pandang tentang isra’ dan mi’raj memang bisa beragam; dari kacamata akidah, isra mi’raj mengajarkan tentang kekuasaan Allah swt. yang tidak terhingga.

Dari sudut pandang sains, mengajarkan bagaimana dunia keilmuan masih menyisakan teori ilmiah yang belum terkuak. Benarkan pernyataan tulus para malaikat Allah swt: “Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (2:32).

Dari sudut pandang moralitas, peristiwa ini mengajarkan bagaimana adab dan akhlak seorang hamba kepada Khaliqnya. Sungguh beragamnya sudut pandang ini menunjukkan keagungan peristiwa yang hanya sekali terjadi sepanjang kehidupan manusia, dan hanya terjadi kepada seorang insan pilihan, Rasulullah saw.

Sayyid Quthb menafsirkan ayat pertama dari surah Al-Isra ini dengan menyebutkan bahwa ungkapan tasbih yang mengawali peristiwa ini menujukkan keagungannya, karena tasbih diucapkan manakala menyaksikan atau melihat sesuatu yang luar bisa yang hanya mampu dilakukan oleh Dzat yang Maha Kuasa. Sedangkan lafadz “bi’abdihi” adalah untuk mengingatkan status manusia (Rasulullah) dengan anugerahnya yang bisa mencapai maqam tertinggi sidratul muntaha, agar ia tetap sadar akan kedudukanya sebagai manusia meskipun dengan penghargaan dan kedudukan yang tertinggi sekalipun yang tidak akan pernah dicapai oleh seluruh manusia sampai hari kiamat.

Allah swt. memilih perjalanan isra’ dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha adalah karena ada ikatan ideologis yang sangat erat; antara akidah Nabi Ibrahim dengan Nabi Muhammad saw. Disamping ikatan kemasjidan antara Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha dalam konteks keutamaannya. Rasulullah mengingatkan:

“Tidak dianjurkan mengadakan perjalanan kecuali menuju tiga masjid; Masjid Haram di Mekah, Masjid Nabawi di Madinah dan Masjid Aqsha di Palestina.” (Bukhari).

Ini juga untuk mengingatkan umat Islam semua bahwa hubungan ideologis antara seluruh umat Islam dengan Palestina tidak boleh padam dan harus terus diperjuangkan.

diambil dari: http://darman-online.blogspot.com/

[+/-] Selengkapnya...

Rambu-rambu Ramadhan



diambil dari :
http://avudz.cc/

[+/-] Selengkapnya...

RENUNGAN RAMADHAN

AKAN DATANG HARI
MULUT DIKUNCI
KATA TAK ADA LAGI
AKAN TIBA MASA
TAK ADA SUARA
DARI MULUT KITA

BERKATA TANGAN KITA
TENTANG APA YANG DILAKUKANNYA
BERKATA KAKI KITA
KE MANA SAJA IA MELANGKAHNYA

TIDAK TAHU KITA

BILA HARINYA
TANGGUNG JAWAB TIBA

ROBBANAA
TANGAN KAMI
KAKI KAMI
MULUT KAMI
MATA HATI KAMI
LURUSKANLAH
TUNJUKKANLAH DI JALAN CAHAYA SEMPURNA
MOHON KARUNIA KEPADA KAMI HAMBAMU YANG HINA

diambil dari :
http://avudz.cc/

[+/-] Selengkapnya...

Semua Tentang Bulan Ramadhan


Nasehat Rasulullah Menyambut Bulan Ramadhan

Bermohonlah kepada Allah Rabbmu dengan niat yang tulus dan hati yang suci agar Allah membimbingmu untuk melakukan syiyam dan membaca kitab-Nya.


Celakalah orang yang tidak mendapat ampunan Allah di bulan yang agung ini. Kenanglah dengan rasa lapar dan hausmu, kelaparan dan kehausan di hari kiamat. Bersedekahlah kepada kaum fukara dan masakin.


Muliakanlah orang-orang tuamu, sayangilah yang muda, sambunglah tali persudaraanmu, jaga lidahmu, tahan pandanganmu dari apa yang tidak halal kamu memandangnya, dan pendengaranmu dari apa yang tidak halal kamu mendengarkannya.


Kasihanilah anak-anak yatim, niscaya dikasihi manusia anak-anak yatimmu. Bertobatlah kepada Allah dari dosa-dosamu.


Angkatlah tangan-tanganmu untuk berdoa pada waktu shalatmu karena itulah saat-saat yang paling utama ketika Allah Azza wa Jalla memandang hamba-hambanya dengan penuh kasih;Dia menjawab mereka ketika mereka menyeru-Nya, menyambut mereka ketika mereka memanggil-Nya, dan mengabulkan mereka ketika mereka berdoa kepada-Nya.


Wahai manusia! Sesungguhnya diri-dirimu tergadai karena amal-amalmu, maka bebaskanlah dengan istighfar. Punggung-punggungmu berat karena beban (dosa)-mu, maka ringankanlah dengan memperpanjang sujudmu.


Ketahuilah! Allah Ta’ala bersumpah dengan segala kebesaran-Nya bahwa Dia tidak akan mengazab orang-orang yang shalat dan sujud, dan tidak akan mengancam mereka dengan neraka pada hari manusia berdiri dihadapan Rabb Al-’Alamin.


Wahai manusia! Barangsiapa diantaramu memberi buka kepada orang-orang Mukmin yang berpuasa di bulan ini, maka disisi Allah nilainya sama dengan membebaskan seorang budak dan ia diberi ampunan atas dosa-dosanya yang lalu.


(Sahabat-sahabat bertanya: “Ya Rasulullah! Tidaklah kami semua mampu berbuat demikian.” Rasulullah meneruskan: “Jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan sebiji kurma. Jagalah diri mu dari api neraka walaupun hanya dengan seteguk air.”


Wahai manusia! Siapa yang membaguskan ahlaknya di bulan ini ia akan berhasil melewati sirath pada hari ketika kaki-kaki tergelincir


Barang siapa yang meringankan pekerjaan orang-orang yang dimiliki tangan kanannya (pegawai atau pembantu) di bulan ini, Allah akan meringankan pemeriksaan-Nya di hari Kiamat. Barang siapa menahan kejelekannya di bulan ini, Allah akan menahan murka-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya.


Barangsiapa memuliakan anak yatim di bulan ini, Allah akan memuliakannya pada hari ia berjumpa dengan-nya


Barangsiapa menyambungkan tali persudaraan (silaturahmi) di bulan ini, Allah akan menghubungkan dia dengan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barangsiapa memutuskan kekeluargaan di bulan ini, Allah akan memutuskan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya


Barangsiapa melakukan shalat sunat di bulan ini, Allah akan menuliskan , Allah akan menuliskan baginya kebebasan dari api neraka. Barangsiapa melakukan shalat fardhu baginya adalah ganjaran seperti melakukan 70 shalat fardhu dibulan yang lain.


Barang siapa memperbanyak shalawat kepadaku di bulan ini, Allah akan memberatkan timbangannya pada hari ketika timbangan meringan. Barangsiapa pada bulan ini membaca satu ayat Al-Quran, ganjarannya sama seperti mengkhatam Al-Qur’an pada bulan-bulan yang lain.


Wahai manusia! sesungguhnya pintu-pintu surga dibukakan bagimu, maka mintalah kepada Tuhanmu agar tidak akan pernah menutupkannya bagimu.


Pintu-pintu neraka tertutup, maka mohonlah kepada Rabbmu untuk tidak akan pernah dibukakan bagimu. Setan-setan terbelenggu, maka mintalah agar ia tak lagi pernah menguasaimu.


Amirul Mukminin k.w. berkata,: Aku berdiri dan berkata, “Ya Rasulullah! Apa amal yang paling utama dibulan ini?” Jawab Nabi: Ya abal Hasan!
Amal yang paling utama di bulan ini adalah menjaga diri dari apa yang diharamkan Allah”.


Di kutip dari:“Puasa Bersama Rasulullah”, karangan Ibnu Muhammad, Pustaka Al Bayan Mizan.
diambil dari : http://wahyukresna.wordpress.com/

______________________________________________________________________________________

Menjelang Bulan Puasa Ramadhan

Menghitung Bilangan bulan Sya’ban

Suatu keharusan bagi ummat muslim untuk menghitung bilangan pada blan Sya’ban sebagai persiapan menghadapi bulan suci ramadhan karena satu bulan bisa jadi 29 hari dan bisa 30 hari. Jika hilal (bulan sabit) sedah terlihat, maka berpuasa di bulan Ramadhan mulai dilaksanakan dan jika terhalang oleh mendung, maka diperkirakan serta disemurnakan bilangan hari bulan sya’ban menjadi 30 hari. Karena Allah sebagai Dzat yang tlah menciptakan langit dan bumi ini telah menjadikan bulan sait sebagai tanda-tanda waktu, supaya manusia mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu. Dan satu bulan itu tidak mungkin lebih dari 30 hari (dalam perhitungan Qamariyah)

Dari Abu Hurairah radiyallahu’anhu bahwa ia berkata: “Rasulullah saw bersabda: “berpuasalah kalian karena melihat hilal dan berbukalah karena melihat hilal. Jika tertutup oleh awan (mendung) maka sepurnakan bilangan bulan sya’ban menjadi 30 hari” 1

Dari Abdullah bin ‘Umar radiyallahu’anhuma bahwa ia berkata: “Rasullah bersabda: janganlah kalian berpuasa sehingga kalian melihat hilal dan janganlah berbuka hinnga kalian melihat hilal. Jika tertutup oleh awan (mendung),maka perkirakanlah.” 2

Jika ada seorang saksi yang bersaksi melihat hilal, maka berpuasalah dan berbukalah!

Dan ru’yah (melihat) hilal dianggap tsabit (bisa diterima), jika disaksikan oleh dua saksi muslim yang adil. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw:

“Berpuasalah kalian karena melihat hilal, berbukalah karena melihat hilal, dan bermanasiklah karena melihat hilal. Jika tertutup oleh awan (mendung), maka sempurnakanlah menjadi 30 hari. Dan jika dua orang saksi telah bersaksi, maka puasalah dan berbukalah.” 3

Meskipun hadist diatas hanya menjelaskan diterimanya kesaksian dari dua orang pada suatu kejadian (yakni ru’yah hilal), bukan berarti kesaksian dari satu orang ditolak. Sebab kesaksian satu orang dibolehkan (dan diterima) dalam ru’yah hilal. Hal ini berdasarkan riwayat yang berasal dari Ibnu ‘Umar, bahwa beliau radiyallahu’anhuma berkata:

“Orang-orang sedang berusaha melihat hilal, lalu aku mengabarkan kepada Nabi saw bahwa aku telah melihatnya. Maka beliau saw berpuasa dan memerintahakan para sahabat untuk berpuasa.” 4

Footnote:

1. [HR. Al-Bukhari (4/106) dan Muslim (1081)]

2. [HR. Al-Bukhari (4/102) dan Muslim (1080)]

3. [HR. An-Nasa’I (4/132), Ahmad (4/321), dan Ad-Daruquthni (2/167) dari jalan Husain bin Al Harits Al Jadali dari Abdurrahman bin Zaid bin Al-Khattab dari sahabat-sahabat Rasulullah saw. Sanad hadist ini hasan dan lafadz hadist ini adalah lafadz dari An-Nasa’i. Imam Ahmad menambahkan: “yang muslim” dan Ad-Daruquthni menambahakan: “yang adil”.

[HR. Abu Dawud (2342), Ad-Darimi (2/4), Ibnu Majah (871), Al-Hakim (1/423) dan Al-Baihaqi (4/212) dari dua jalan, dari Ibnu Wahhab dari Yahya bin Abdullah bin Salim dari AbuBakar bin Nafi’ dari bapaknya dari Ibnu ‘Umar radiyallahhu’anhuma. Dan sanadnya shahih, sebagaimana dikatakan oleh Al-Hafidzh Ibnu Hajar dalam At-Talkhish Al-Habir (2/187)]

Possibly related posts: (automatically generated)

* Ramadhan dan Kuli Bangunan (2)
* Detik-detik Menjelang Bulan Ramadhan
* Selamat menunai ibadat puasa bulan ramadhan

« [Hadist] Tentang Ikhlas dan Masalah Niyat Dalam Segala Perbuatan, Perkataan dan Tingkah Laku Baik Lahir Maupun Bathin Kebesaran Illahi [pics] »

Actions

* rss Comments rss
* trackback Trackback

Information

Author : wahyukresna-->
diambil dari : http://wahyukresna.wordpress.com/
______________________________________________________________________________________

45 hari lagi menuju Puasa Ramadhan


“Allahumma bariklana fii rajab wa sya’ban wa balighna Ramadhan.” (Ya Allah, berkahilah kami di bulan rajab dan Sya’ban, dan sampaikanlah kami di bulan Ramadhan)

sungguh tak terasa, sangat tak terasa, bahkan tak terkira! 45 hari lagi sudah puasa ramadhan lagi… asyiiiikkk. sip lah! wah wah wah., banyak banget yang perlu disiapin nih… mulai dari persiapan kesehatan, persiapan ilmu biar gak nyia-nyia’in bulan ramadhan, sampe persiapan beli dompet yang super Gedhe… :D

wah target apa ya yang kudu aku buat tuk ramadhan besok? ini ato itu ya? yang jelas istirahatkan pikiran dari hal2 yang mbuat butek dan sumpek otak. kayaknya perlu persiapan dari sekarang… wah ini posting apa to? aku kok malah bingung??? gak tau lah otakku lagi busy. stress. moga aja dengan didatangkannya bulan ramadhan ini aku bisa sehat kembali… amin.

ohya, mungkin dalam waktu deket2 ini aku bakal posting2 tentang bulan ramadhan, biar kita tambah siap menghadapinya dan lebih dimudahkan, amin. tunggu aja di bulan sya’ban-ramadhan.
diambil dari : http://wahyukresna.wordpress.com/
__________________________________________________________________________________________________

Tips Bulan Ramadhan

Puasa Ramadhan adalah puasa yang wajib dikerjakan oleh setiap umat islam yang masih hidup di seluruh jagat raya ini. Makhluk halus atau jin, binatang, alien, tumbuhan sama sekali tidak diwajibkan puasa karena di dalam Al-quran hanya manusia atau orang-orang yang beriman saja yang diwajibkan puasa.

Puasa Ramadan terkadang cukup menyebalkan karena harus dikerjakan selama satu bulan ramadan penuh yang bisa berisi 29 sampai 30 hari lamanya berturut-turut tergantung pengumuman pemerintah. Namun dibalik penderitaan puasa terdapat suatu manfaat atau faedah yang sangat berguna seperti untuk melatih diri dari serangan hawa nafsu syaitan yang terkutuk, menahan lapar, haus, pikiran kotor, ngerumpi, syahwat sex, ghibah (ngomongin orang), berbohong, ngerjain orang, dan lain sebagainya. Selain itu dengan sebulan penuh berpuasa romadhon kita bisa meningkatkan ketakwaan kita terhadap Allah SWT serta menjadi kesempatan kita untuk menumpuk amal ibadah karena ibadah di bulan romadon pahalanya berlipat ganda.

Terkadang kita tidak bisa menghindari bekerja seharian dan kehilangan banyak cairan tubuh sehingga terasa sangat haus dan bibir pun mulai pecah-pecah. Mental pun mulai goyah di kala raga sudah terasa kering kerontang tiada akhir. Berikut ini adalah beberapa tips untuk tetap kuat puasa sampai bedug maghrib tiba untuk berbuka puasa :

1. Berada di tempat sejuk dan adem
AC adalah sahabat yang paling baik di kala bulan ramadhan. Berada di ruang ac baik di rumah, kantor ataupun di mall dapat mengurangi rasa kering di sekujur tubuh. Beruntunglah bagi saudara kita yang berada di wilayah geografis dengan temperatur suhu dingin atau bersalju. Suhu yang rendah dapat mengurangi keluar atau penguapan cairan tubuh.

2. Think positive atau berfikir positif
Percayalah bahwa badah yang anda sedang jalankan akan memberikan sesuatu yang sangat tidak ternilai harganya yang lebih berharga dari nyawa anda. Contohnya seperti dengan puasa romadhon kita akan mendapat pahala yang sangat besar, dengan puasa kita akan disayang Allah swt, dengan puasa kita akan jadi kurus, dengan puasa kita kita akan dapat mengontrol hawa nafsu seenak udel bodong kita, dan lain sebagainya. Yang penting membuat mental tambah kuat dalam menghadai segala bentuk kelaparan, kehausan, kagatelan, dan lain-lain.

3. Melupakan waktu dengan hobi
Pernahkan anda berpikir atau berkata bahwa suatu aktifitas dapat membuat anda lupa waktu? Cobalah ingat-ingat dan temukan apakah itu? Bila aktifitas atau kegiatan itu halal dilakukan di bulan puasa maka laksanakanlah. Contohnya seperti main video game, ps2, xbox, nintendo, dingdong, ludo, monopoli, congklak, remi, gaple, tak umpet, tak jongkok, main musik, ngeband, menciptakan lagu, ngeblog, maen internet, nonton tv, ngobrol, pidato, debat, nelpon pacar dan berbagai kegiatan lain yang diridhai oleh Allah swt. Jangan lupa ingat waktu shalat dan waktu beduk buka puasa tiba. Terkadang menjalankan hobi bisa lupa waktu dan akhirnya koleps dan bangun-bangun sudah di alam kubur.

[Sumber]

Posted by Chong at 12:16 PM
diambil dari : http://ke-hidup-an.blogspot.com//

___________________________________________________________________________________________________

[+/-] Selengkapnya...

Template by : kendhin x-template.blogspot.com adam maulana 2009